Tampilkan postingan dengan label #Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Artikel. Tampilkan semua postingan

18 Juni 2011

Slamat Ulang Taun, McCartney!

Hari ini, 69 Tahun yang lalu, Sir Paul McCartney lahir di Liverpool. Untuk turut merayakan hari bahagia McCartney ini, maka playlist saya sore ini hanya berisi lagu-lagu dari The Beatles, terutama ciptaan McCartney. Saya pun menyusun beberapa lagu terbaik ciptaan McCartney saat bersama The Beatles. Ada lagu yang diciptakan sendiri oleh McCartney, ada yang diciptakan McCartney bersama Lennon dan ada lagu yang diciptakan oleh McCartney namun dalam kreditnya ditulis "Lennon/McCartney". Daftar terbaik ini saya susun mulai dari judul pertama yang muncul di benak saya saat menyebut nama McCartney.

1. "The Long and Winding Road" [Let It Be... Naked - 2003]
Lagu ini merupakan single dari album terakhir The Beatles, Let It Be, yang dirilis pada 8 mei 1970. Namun versi album Let It Be itu jelek. Phil Spector, sang produser, menambah orkestrasi string yang membuat "The Long and Winding Road" terdengar tidak lebih baik dari versi asli yang sebelumnya telah di-mixing Glyn Johns. McCartney yang tidak puas dengan hasil Let It Be, kemudian melakukan mixing dan mastering ulang (sudah termasuk membuang jauh-jauh orkestrasi string yang dipakai Spector) dan merilis kembali album itu dengan nama Let It Be... Naked pada 2003. Bagi saya "The Long and Winding Road" adalah karya terbaik yang dimiliki The Beatles. 

2. "Penny Lane" [Magical Mystery Tour - 1967]
















3. "Hey Jude" [1968]
Lagu yang ditulis McCartney untuk menyenangkan Julian Lennon karena perceraian orang tuanya (John & Cynthia Lennon). Namun entah kenapa, tiap kali bertemu pengamen yang sering memainkan The Beatles, lagu yang selalu saya pesan untuk dimainkan adalah "Hey Jude". Lagu wajib karaoke akhir pekan. Part "Na.. Na.. Na.." di akhir lagu selalu menjadi bagian favorit semua orang.

4. "I Will" [White Album - 1968]




















5. "Good Day Sunshine" [Revolver - 1966]

6. "Let It Be" [Let It Be - 1970]

7. "Yesterday" [Help - 1965]

Selamat ulang taun Om Paul McCartney! Semoga panjang umur dan semoga mimpi saya untuk menyaksikan penampilan Anda dan menyanyikan "The Long and Winding Road" bersama bisa segera terwujud.

23 Februari 2010

Jacko dari Tanah Maluku

Dalam sebuah kesempatan, Wendi Putranto, editor majalah Rolling Stone, pernah berkata, “Di Ambon, ada banyak sekali Michael Jackson. Semua orang pintar bernyanyi dan menari.”

Hal itu memang benar. Masa kecil saya dihabiskan di kota kecil Masohi, Maluku Tengah –yang tak jauh dari Ambon. Setiap tahunnya di Masohi –juga Ambon- selalu diadakan parade jalanan dimana semua pesertanya akan menari sepanjang jalan, nama parade itu: Baris Empang. Yang menari paling baik akan dijuluki Jacko oleh komunitasnya. Pada parade itu saya bisa mendapatkan banyak sekali Jacko kecil. Di Masohi breakdance disebut disko. Ketenaran murid di sekolah tidak diukur dari seberapa pintar dia di kelas, tapi seberapa jago dia berdisko! Jauh sebelum dihadirkan di stasiun tv swasta, kompetisi dance sudah menjadi hal biasa yang selalu disambut antusias di Masohi. Kompetisi disko dan bernyanyi biasanya diadakan secara bersamaan di gedung pertemuan, karena minimnya hiburan seperti konser musik band-band besar, maka event itu sudah menjadi hiburan tersendiri -dan menjadi agenda wajib yang sayang bila dilewatkan- bagi kami. Nyaris semua peserta selalu tampil maksimal dengan kostum, musik latar dan properti yang mereka bawa ketika pentas. Pernah ada yang mengusung peti mati di panggung! Peti mati itu tidak hanya didiamkan, karena setelahnya ada 'mayat hidup' yang bangun dari sana.

Ketika kompetisi Let's Dance diadakan di jogja, ada grup disko yang semua anggotanya berasal dari Maluku. Seingat saya, nama grup mereka dinamai dengan bahasa Ambon. Saya turut bangga untuk itu. Saat mereka tampil, beberapa orang disamping saya, yang juga peserta Let's Dance, berteriak histeris, “Yeah.. Oldskull!”. Ya.. disko! yang tidak asing untuk saya. Gerakan hampir sama yang sering saya lihat l5 tahun lalu -yang akan sulit ditemukan pada modern dance sekarang ini.


Perform A-Crew di Salatiga. Potongan salah satu lagu Michael Jackson dan suara tembakan sudah dipakai sejak dulu dalam musik latar disko di Ambon.


Setiap pelajaran seni di sekolah, teman-teman saya yang berdarah asli Ambon, akan maju dengan mantap ke depan kelas dan bernyanyi dengan merdu. Biasanya -sebelum kelas ditutup- guru seni kami akan meminta mereka untuk bernyanyi 1-2 lagu lagi dalam bentuk kelompok. Sebagian dari mereka adalah penyanyi gereja dan langganan juara kompetisi penyanyi tingkat daerah.

Glen Fredly dan Yopie Latul -yang bersuara maut- adalah penyanyi-penyanyi hebat. Namun masih ada jutaan nama hebat lain di pulau indah itu. Sageru -yang namanya diambil dari nama minuman khas Ambon- adalah salah satu dari banyak generasi terkini penyanyi hebat Ambon.


Kolaborasi Ambowhena (Grup hiphop ambon-belanda) & Sageru, grup R&B dengan vokalis bersuara merdu. Tentunya dengan rasa khas ambon: Manis. :)

Satu dapa susa yang laeng kele..
Maluku satu dara seng ada yang pele..
Ambon Rules!

18 April 2009

Slank, Iklan dan Lapindo

baliho Hp Esia edisi Slank di salah satu sudut kota Jogja.

Kelima Pahlawan Rock N Roll itu muncul dengan dandanan ala Rockstar dalam iklan dan dengan mantap berkata “Beli Hp Esia SLANK, HPnya Slankers sejati”. Menyedihkan.

Bagi saya bila seorang musisi atau sebuah band sudah menjadi bintang iklan -yang tidak sesuai dengan imej band itu- atau yang paling parah berperan dalam sebuah sinetron atau film, itu menandakan sang musisi/band tersebut sudah tidak produktif atau malah frustasi dalam bermusik. Karena bagi saya, jobdesc seorang musisi atau sebuah band itu hanya menciptakan, memproduksi atau memainkan lagu/musik. Kalaupun ada yang lain yang pasti tidak bergeser jauh dari musik. Tentu saja asumsi sempit saya ini bisa saja salah, dalam konteks iklan misalnya, para pengiklan biasanya memanfaatkan popularitas public figure untuk memperluas pasar/mendongkrak penjualan produk mereka. Dan apabila dikaitkan dengan Slank, asumsi saya akan menjadi salah besar. Dengan 25 tahun eksistensi mereka, Slank sudah melahirkan belasan album. 2 album terakhir malahan dirilis juga di Jepang dan US. Wow!! Sebuah pencapaian yang luar biasa. Saya bangga mimpi band idola saya bisa terwujud.

Saya pertama kali menyaksikan Slank membintangi sebuah iklan, yakni pada iklan Kartu AS, kemudian Super Mie, Bintangin dan Minak Djinggo. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah musik ternama (Rolling Stone edisi Juni 2008). Ridho memberi penjelasan perihal persentuhan Slank dengan dunia iklan. “Kita mau beriklan ya antara lain untuk (rekaman) itu”. Ok, melacur untuk sebuah mimpi. Kompromi. Dibagian lain wawancara tersebut, Abdee menambahkan “Kami mau beriklan tapi tetap ada beberapa persyaratan. Pertama, nggak boleh terlalu komersil ke produk. Kedua, ada pesan dari Slank”. Untuk pembenaran dari Abdee, Super Mie dengan isu persatuan, dan Minak Djinggo dengan program budaya Indonesia-nya masih bisa dimaklumi. Tapi dengan kartu As, dan Bintangin, hey.. dimana pesan mendalam yang bisa disampaikan? Pada visual yang ditampilkan di iklan Bintangin, para pendekar Rock n Roll yang terlihat mempunyai bentuk tubuh yang kekar dan sehat itu kemudian berakting seperti orang yang masuk angin, tentu saja dengan acting yang kaku dan (maaf) sedikit menjijikan. Saya selalu mengganti saluran TV saat melihat iklan tersebut. Tanpa diperalat korporat-korporat –dengan tampil tidak seperti Slank- itu pun saya yakin Slank bisa menyampaikan pesan sosial yang lebih baik dalam lagu dan pentas-pentas mereka.

Kemudian pada malam akhir desember lalu (seingat saya tanggal 23), saya kemudian dikagetkan dengan kemunculan Slank dalam iklan terbaru mereka. Jujur, saya benar-benar kaget. Kaget karena ini iklan baru mereka dan tambah terkaget-kaget lagi karena ini adalah iklan Esia.

###

FYI, Esia adalah produk dari Bakrie Telecom. Bakrie Telecom adalah anak perusahaan dari Bakrie Group. Dan Bakrie Group adalah sebuah grup perusahaan yang bergerak di banyak bidang, salah satu anak perusahaannya yakni PT. Energi Mega Persada yang merupakan pemilik saham mayoritas Lapindo Brantas. Lapindo Brantas yang karena kelalaiannya menyebabkan Tragedi Lumpur Porong (Sidoarjo). Tentunya tragedi Lumpur Sidoarjo takkan pernah dilupakan. Tragedi Lumpur yang menyebabkan warga empat desa (Siring, Jatirejo, Renokenongo dan Kedungbendo) kehilangan tempat tinggal; melumpuhkan mata pencaharian mereka karena areal pertanian dan perkebunan rusak; lebih dari 15 pabrik yang tergenang lumpur menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan lebih dari 1.873 orang; tidak berfungsinya sarana pendidikan; kerusakan lingkungan wilayah yang tergenangi; dan rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon). Tragedi tersebut juga sempat menyebabkan warga korban Lumpur kemudian menempati pengungsian dengan kondisi yang sangat tidak layak, mendapat ketidakpastian ganti rugi sebagai hak mereka, dan kemudian baru mendapatkan titik terang saat ribuan korban Lumpur ini terpaksa nekat mendatangi Istana awal desember 2008 lalu.

Tragedi Lumpur Lapindo tentunya tidak akan terlalu menjadi masalah dengan Slank –khususnya bagi saya- apabila Slank tidak melagukan “Lapindo”. Dalam peluncuran album “Slow but Sure” Slank juga melakukan aksi diam sebagai bentuk keprihatinan mereka saat lagu Lapindo diputarkan dengan latar belakang visual Bencana Lumpur Lapindo di Hard Rock CafĂ© 2007 silam.

Saya tidak tahu apakah Slank yang tahun lalu baru saja tur ke U.S tidak punya akses untuk mengetahui latar belakang perusahaan yang mengontrak mereka sebagai bintang iklan? hal yang mustahil di era internet sekarang ini. Atau mungkin Slank tahu dan menganggap hal tersebut tidak penting? Atau malah Slank tidak peduli sama sekali?

###

Saya menyaksikan perayaan ulang tahun Slank yang disiarkan Anteve 2 januari lalu, pada salah satu bumper di acara tersebut, terdapat tayangan dimana ada beberapa orang Slankers terlibat dalam sebuah pembicaraan. Intinya pada pembicaraan tersebut para Slankers tadi saling mengomentari atribut Slank yang mereka punya dan merasa ada yang kurang. Kemudian tayangan tadi terhenti dan menayangkan Slank yang telah berdiri di depan panggung untuk memperkenalkan HP Esia Slank. Slank menyediakan sesi khusus untuk “mengiklankan” HP Esia Slank ini.

Saya tidak peduli deal yang terjadi saat Slank dikontrak Esia maupun Produk lainnya. Semuanya tidak akan terlalu menjadi masalah. Tapi bila kemudian muncul tagline seperti “Beli Hp Esia SLANK, HPnya Slankers sejati”. Slank menjadi hal yang menyedihkan bagi saya.

Rasanya saya tidak mengenal lagi siapa idola saya ini.

ex a.k.a echal
Slankers

*Tulisan ini saya kirimkan ke Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim sekitar pertengahan januari tahun ini. karena belum mendapat tanggapan apa-apa dari Bimbim, jadi saya kepikiran untuk memuatnya dalam blog saya. Yah.. siapa tau ada tanggapan dari teman-teman.

11 Desember 2007

Strategi Baru Label Rekaman "Membunuh" Artis-Artisnya

Oleh Wendi Putranto


Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.


Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.


Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label).


Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih "belajar" maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label :)

Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.


Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.


Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya.


Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.


Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:
- Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.
- Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan "pembusukan". Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.
- Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita :)
- Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It's a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman!
- Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo'on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari "kuli musikal."


Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.


Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).


Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya.


Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming "fame & fortune" di industri musik. Padahal belum tentu bakal "booming" juga :)


Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.


Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself!


Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi "popularitas maksimal dua atau tiga album saja!" Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.


Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band! :) Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan "easy come, easy go!"


Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It's not the end of the world as we know it :) Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.


Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.


Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai "label rekaman". Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya..... dan mereka cukup berhasil! Salute!


Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar! :)


Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.


Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa.

Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu:


Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.


Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.


Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall :) Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.


Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.


Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!


Hope we could make real changes together.
For better, not worst....
Vive le rawk!


tulisan ini diambil disini

16 Juni 2007

DREADLOCK

Mari “budayakan” DREADLOCK
Werds by ex a.k.a echal

Bob Marley mungkin gak pernah menyangka kalo model rambut dreadlocknya bakal diikutin banyak orang sekarang ini… Model rambut dreadlock (sebutan untuk gimbal) yang awalnya merupakan identitas dari para Rastafarian (pengikut rasta) kini telah digandrungi oleh berbagai kalangan. Gak hanya penikmat musik reggae atau seniman saja, namun udah sampe ke kalangan orang kantoran…yeah, believe it or not!! Begitulah kenyataannya. Dreadlock mulai muncul dan eksis di Indonesia pada era 80an. Pada masa awalnya memang masih para pemusik reggae saja yang ber-dreadlock, sebut saja Tony Q Rastafara yang hingga kini masih betah dengan gaya rambut dreadlocknya, sekarang orang-orang dengan gaya rambut dreadlock bisa kita temui dimana saja. Ada suatu kebanggan tersendiri ketika seseorang itu bergimbal. Meski kesan di mata orang-orang awam kalo orang yang gimbalan tu pasti kotor, kumel, gak terurus, slengean dan sebagainya….
Gak sulit koq ngewat Dreadlock!!!
Di negeri asalnya Afrika, Dreadlock merupakan seni mengunci rambut dengan cara memintal atau menganyam rambut. Dalam 2 dekade terakhir teknik “mengunci” rambut ini pun mulai berkembang. Orang-orang mulai bereksperimen dengan menggunakan lem, wax, air laut, bahkan air bir. Namun ada beberapa diantara metode-metode ini yang malah menyebabkan kepala menjadi pusing, berketombe hingga yang paling parah bisa berkutu. Adalah Ipo (dreadlock artist asal jogjakarta) yang kemudian mengenalkan teknik dreadlock baru yakni sasak-sulam-ikat pada tahun 1998. Dengan metode seperti ini kekhawatiran akan tumbuhnya ketombe & kutu pun dapat dihilangkan. Merawat rambut seperti ini ternyata tidak sesulit dibayangkan. Anda (atau saya) hanya perlu rajin keramas dengan shampoo yang biasa dipakai (gak perlu pake shampoo khusus gimbal.. kayaknya juga belum ada shampoo kayak gini) serta vitamin penguat akar rambut. Karena rambut gimbal akan tumbuh dengan sehat apabila perawatannya juga baik.
Mencoba hal-hal baru yang belum pernah anda lakukan bukan suatu tindakan yang salah, apalagi kalo hal-hal tersebut masih positif. Bergimbal mungkin??? Bergimbal tidak akan mempengaruhi kesehatan jiwa anda. Paling hanya mempengaruhi persepsi orang tua pacar terhadap anda…..hehehe….Sempat terlintas dibenak saya.. “kayaknya seru juga kalo semua orang di dunia ini gimbalan”…Hahaha…bayangkanlah!!!.
“Mari budayakan Dreadlock”.

Diambil dari bucks magazine #3 “born and loose control wid the inspiration of Jah”
foto bobmarley juga dicari di mboke
foto lainnya
disini serta koleksi ex

09 Juni 2007

SELERA KACANGAN, MUSIK KACANGAN

yah..(band) kami memang norak, kami emang dari desa. saya hanya kuli bangunan, dia hanya penjual cendol, dia anak petani, dia kuli bangunan….”

Sebuah tayangan infotainment di salah satu tv swasta yang menampilkan fenomena baru dalam Industri Musik Indonesia sore itu, cukup menggelitik saya dan membuat saya tak berhenti terpingkal-pingkal. sosok muda, yang masih terlihat belia, dan tentu saja terlihat sangat norak, mengomentari dengan sangat polosnya dan setengah kaku -karena mungkin baru sekali diwawancarai di tv- tentang kritikan pedas yang mulai berdatangan atas kemunculan mereka. Kangen band. Fenomena baru dari desa yang membuat para kritikus musik mulai ngoceh sana-sini, membuat para pengamen di sepanjang jalan solo dan malioboro menambah list lagu mereka, meramaikan lapak cd-cd bajakan dengan lantunan tembang pop melayu superduper norak, hingga masuk dalam daftar nada dering ponsel teman saya, yang saya rasa selera musiknya tidak begitu buruk sebelum tahu dia suka band ini.
Ini bukan kali pertama industri musik Indonesia dikagetkan dengan kemunculan band norak seperti kangen band. Sepanjang tahun 2006 lalu, media dihiasi dengan “fenomena kampung” lainnya, bernama Radja. Radio-radio anak muda lokal mendengarkan Benci Bilang Cinta, dan menempatkan lagu ini di chart tertinggi lagu-lagu Indonesia. Semua stasiun tv swasta memutarkan klip-klip dari band ini, sampai-sampai stasiun tv khusus musik, Mtv, tidak mau kalah dalam frekwensi pemutaran klip-klip radja. Majalah-majalah anak muda menghiasi kover depannya dengan foto personil band kampung ini, hingga memuat liputan-liputan terhangatnya. Wajah Ian kasela, vokalis band radja, yang lebih mirip tukang pijat tuna netra daripada vokalis band rock, menghiasi seluruh tayangan infotainment yang memuat berita tentang kontroversi dia dan band kampungnya.
Album “untuk semua” yang baru dirilis band kampung ini pada maret 2007 lalu (konon) meraih double platinum hanya dalam hitungan minggu untuk penjualan diatas 300.000 copy. Sedangkan rekan sesama band norak, kangen band, menembus angka 153.000 copy untuk penjualan album pertama mereka yang demi tuhan, saya tak tega mendengarnya. Angka yang cukup mengagetkan untuk sebuah band baru apalagi untuk band norak dan kampungan seperti mereka. Ditambah lagi ternyata nama band kampung ini sudah lebih dulu dikenal karena penjualan album bajakannya sebelum mereka di-sign Warner music Indonesia. Hey..apa yang terjadi dengan kondisi industri musik di negeri ini?? Apakah memang kangen band dan radja lebih mewakili selera musik masyarakat Indonesia umumnya?? Ataukah masyarakat Indonesia lebih menyenangi lagu-lagu pop melayu menggelikan seperti itu?? Sampai kapan kita akan terus dibayang-bayangi oleh karya-karya buruk yang terus saja didukung media lokal?? ah..sungguh memprihatinkan, mengingat banyak talenta-talenta dengan musik yang berkualitas diluar sana. Sementara raksasa-raksasa label musik terus saja memanfaatkan selera pasar yang homogen, dan terus saja melakukan pembodohan melalui pendengaran kita.
Wenz rawk, editor majalah musik ternama Rolling Stones, dan juga manager dari band new wave The Upstairs, dalam sebuah kesempatan wawancara menyatakan “sebenarnya selera masyarakat musik Indonesia sudah baik, hanya saja diperburuk lagi dengan adanya radja”. Sebuah komentar pedas yang memang pantas apabila diucapkan orang-orang berkompeten seperti dia. David Naif bahkan sempat berkomentar “Tega bener, mau dikemanain musik Indonesia . Kangen Band…please deh!, jangan band-band kayak gitu lagi yang dikeluarin” (kapanlagi.com). Hampir senada dengan Wenz rawk serta David Naif, gitaris dari band screamo Uncle James, Ari, dalam sebuah perbincangan ringan dengan saya, dengan santainya mengatakan “kalo pengen bikin band tenar di Indonesia ini gampang aja…bikin aja band yang senorak-noraknya… bikin lagu norak, nama band norak, pake baju norak, pokoknya semuanya serba norak. Pasti bandnya bakal terkenal”. Ungkapan kekesalan yang lebih pada ketidakpuasan dari seorang pelaku musik, akan kondisi industri musik di negeri ini.
-x-