Tampilkan postingan dengan label Review Gigs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Gigs. Tampilkan semua postingan

05 Mei 2010

Berburu Kepala di Jogjakarta

Tika and The Dissidents sukses menghadirkan ratusan kepala dan tampil memukau menyambut Mayday!
 
30 April 2010, pukul 7 malam, JNM sudah ramai. Seperti biasa, memang ada pembukaan pameran. Namun perayaan lain terjadi di tengah-tengah kompleks museum yang dulunya kampus seni itu. Aula JNM yang di hari-hari biasa tampak lengang, malam itu disulap menjadi arena pertunjukan dengan set panggung sederhana, backdrop hitam besar dengan susunan layangan dibagian tengah, tata lampu minimalis, tribun mini di bagian belakang, dan karpet hitam untuk penonton yang memilih duduk bersila di bagian depan. Tika and The Dissidents memilih Jogja sebagai kota pertama untuk promo album terbarunya The Headless Songstress.

Pertunjukan malam itu dibuka oleh Frau, solois yang baru saja merilis mini album pertamanya “Starlit Carousel” secara gratis lewat netlabel yesnowave.com (format CD dirilis Cakrawala Records). Membuka pertunjukan dengan satu lagu milik Iggy Pop and The Stooges, dilanjutkan dengan “Intensity Intimately” dan “Mesin Penenun Hujan” yang menenangkan. Tak hanya ditemani Oscar, pianonya. Pada “Salahku Sahabatku” Frau menghadirkan Nadya Hatta (Armada Racun, Risky Summerbee and The Honeythief, Demi Tuhan, dan ex-Southern Beach Terror). Wok the Rock yang turut bernyanyi pada “Rat And Cat” mengundang tepuk tangan semua penonton hingga Frau tak sengaja berkomentar, “Wok the Rock.. The star of tonight”. Setelah “I’m a Sir” Frau menutup penampilannya dengan mengajak Ugoran Prasad dari Melancholic Bitch untuk menjadi “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa”. Ugoran Prasad yang kharismatik di panggung tampil mempesona meskipun hanya satu lagu dan melengkapi penampilan Frau yang melenakan.

Tampil dengan formasi lengkap dan mengenakan pakaian serba hitam, Tika and The Dissidents juga menghadirkan Iman Putra Fattah –gitaris Lain dan Zeke and The Popo, juga produser The Headless Songstress bersama Nikita Dompas, serta Mian Tiara dan Mutiara Rievana pada departemen backing vocal. Menyapa penonton dengan lagu-lagu yang diambil dari The Headless Songstress “Pol Pot”, “20 Hours”, dan “Infidel Castratie”, serta “Fever Fairytale” dari album Defrosted Love Songs. Mungkin karena nuansa lagu-lagu awal yang begitu dingin, penonton pun ikut dingin, hingga Tika sedikit 'mengeluh' dan mencoba mencairkan suasana “Aku jadi gugup nih, jangan terlalu serius dong..” candanya. Pada “20 Hours”, Tika sempat membagikan tamborin dan mengajak penonton untuk ikut bermain bersama. Suasana mulai intim dan menghangat, Tika yang komunikatif beberapa kali melempar candaan ke penonton, “Di Jogja lagu saya dirubah jadi tentang peteng, jadi tolong mas lampunya dibikin peteng”, candanya sebelum membawakan “Tentang Petang”. Tika juga berulang kali mengucapkan terima kasih untuk penonton dan tentunya Kongsi Jahat Syndicate yang untuk kedua kalinya sukses menggelar konsernya di Jogja. Gufy dari Kongsi Jahat Syndicate juga mendapat candaan spesial dari Tika yang menyebut Gufy sebagai inspirasi dari lagunya “Clausmophobia” yang menyinggung pandangan stereotipikal masyarakat terhadap homoseksualitas.

Ini hanyalah lagu tentang sayur” kata Tika sebelum membawakan “Genjer-genjer”, lagu rakyat ciptaan seniman asal banyuwangi, Muhammad Arief, yang pada era orde baru haram diedarkan bahkan dinyanyikan. Pada bagian awal, nuansa yang dibangun Tika and The Dissidents pada lagu ini begitu suram, ditambah dengan tika yang bernyanyi menggunakan megaphone. Entah apa kekuatan lagu ini. Yang pasti, mungkin hanya Tika and The Dissidents satu-satunya band di dunia ini yang mampu membuat penonton merinding dengan sebuah lagu tentang sayur. Setelahnya, lagu patah hati yang manis “Waltz Muram” dibawakan.

“Jogja Istimewa” bagi Tika, untuk itu Tika juga menghadirkan bintang tamu istimewa –yang beberapa hari sebelumnya diumumkan lewat akun twitter-nya. Meskipun sudah tertebak Tika sempat memberi clue kepada penonton, menyebut nama Anang, bahkan menyanyikan reffrain “Separuh Jiwaku Pergi” single milik Anang yang kemudian disambut tawa heboh penonton. Hendra “Anda” Perdana, sang bintang tamu istimewa pun tampil dan berbagi suara mautnya pada “Ol’ Dirty Bastard”. Anda, Tika, dan Mian Tiara juga membawakan “Cukup Dalam Hati”. Tika and The Dissidents boleh beristirahat sejenak saat Anda mengambil alih panggung dan menunjukan kelasnya sebagai salah satu penyanyi terbaik yang dimiliki negeri ini. Anda kemudian membuai penonton dengan “Biru” dari In Medio, album solo pertamanya.

Tak hanya Tika and The Dissidents yang menyajikan pertunjukan terbaik dengan kemampuan bernyanyi dan musikalitas yang baik pula, Mian dan Muthiara yang berada di belakang pada beberapa bagian juga menampilkan olah vokal sempurna yang membuat mereka juga layak mendapatkan penghargaan malam itu.

Berturut-turut “Venus envy”, “Under Their Feet”, dan “Mayday” dibawakan sebagai penutup konser ini.

Ini pertama kalinya kami merayakan Mayday dengan kalian semua”, Tika kemudian mendaulat orang-orang yang selama ini berada dibelakangnya, road manager dan kru, juga Gufy dan Oji dari Kongsi Jahat Syndicate, dan beberapa penampil sebelumnya untuk tampil membentuk ”paduan suara buruh” dan menutup konser ini dengan sebuah perayaan Mayday yang memukau.

07 April 2010

"Menyeringai" di Pameran Clothing


Sebelumnya, saya tidak mengantisipasi bahwa event ini akan ramai dengan kimcil. saya tidak biasa menghadiri event seperti ini (pameran clothing) jadi sedikit teralienasi dengan ribuan remaja sekolah menengah atas yang memadati JEC, Sabtu, 3 april lalu. Hal ini hanya dialami oleh saya, temen-temen yang datang berbarengan sangat nyaman, apalagi banyak yang sedap dipandang. saya cukup maklum mengingat periode jomblo mereka terhitung lama. Calon kakak ipar saya, Maris Utama menobatkan Kickfest sebagai arena KSS terbaik tahun ini. Slamat buat Kickfest. =))

Karena antrian tiket yang panjang, saya melewatkan aksi glam rock dari bantul yang sedang hangat dibicarakan belakangan ini, Sangkakala. Saat tiba Badminton (?) sedang pentas. Saya tidak ingat dengan jelas nama band ini. Bandnya juga tidak menarik. Memainkan pop punk/power pop, semacam Pee Wee Gaskin dalam versi minimalis.

Tak perlu menunggu lama akhirnya Seringai pun tampil, pada lagu awal sound yang keluar belum maksimal. Hal biasa dalam sebuah konser. Tanpa basa-basi yang tidak penting Seringai kemudian memainkan nomor-nomor cepat pemancing rusuh pit macam "Berhenti di 15", "Serigala Militia", "Amplifier", dan "Akselerasi Maksimum". Nomor klasik "Lencana" juga tak luput dimainkan. Seringai kemudian menutup pertunjukan mereka dengan "Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)" dan "Ace of Spades" milik The Legendary Motorhead!


Sebuah pertunjukan yang sangat tight! nyaris tak ada celah yang kurang menggigit. Kalau pun ada, itu adalah bagian dimana Arian13 bernyanyi seperti anak autis yang sedang berkumur dengan jus alpukat. (trik menyebalkan saat lupa lirik? mungkin) Bagian terbaik favorit saya masih tetap lick memorable Ricky pada interlude "Lencana", saya melakukan air guitar pada bagian ini. Haha! Howl! \m/

-x-

Foto oleh Zulfikar Aulia Rachim

07 Desember 2008

Gampingan 29 November

Kawanan kaum muda dengan botol ‘Amer’ ditangan mendominasi malam itu. Tak ada tata rambut poni lempar atau dandanan ala raver, kebanyakan yang datang tampil dengan dandanan “Nyewon” (istilah pakde untuk dandanan ala mahasiswa ISI era terkini alias seniman modis) & “Ngintani” (nyewon versi feminim a.k.a mirip gintani). Kami gemar memperhatikan gaya berpakaian orang-orang, sedang kami hanya mengenakan kaos oblong, celana pendek & sandal jepit. Kos saya berada tak jauh dari Jogja National Museum, jadi kami memilih untuk tidak berganti pakaian setelah ngeteh di angkringan, lagian ini hanya pembukaan pameran bukan resepsi.

Hingga acara berakhir nyaris tak ada yang normal malam itu, semua dikendalikan keliaran. Sebelum sesi musik elektronik, acara pembukaan pameran itu sudah menunjukan tanda-tanda menuju liar. Band noise (nanggung) –yang saya tidak tahu namanya- mungkin tak pernah menyangka inilah penampilan paling berpengaruh mereka, tak hanya musik mereka yang noise, penonton pun tiba-tiba mendadak noise. Seorang penonton terlihat telah mengangkat dan memukul-mukul snare drum saat band ini masih memainkan setnya. Dan lainnya menginjak neck gitar milik gitaris band itu. Zoo yang dijadwalkan tampil setelahnya akhirnya batal tampil. Gangguan.

Saat drum n basses mulai didentumkan keliaran makin menjadi, seorang seniman yang lebih terlihat seperti gelandangan mulai menarik cewek bule yang akhirnya enggan berpasangan dengannya, anehnya orang itu dalam kondisi mabuk tapi dia bisa memilih bule yang bening dengan baik. Dan layaknya selebrasi atlit sepeda yang baru saja memenangkan sebuah etape perlombaan, penonton lainnya sudah menghadirkan hujan buatan dengan menyiramkan bir pada barisan depan penonton. Perangkat tata suara pun bertambah fungsi menjadi podium juara baginya. Semua orang terlihat menikmati malam itu, hanya pakde yang terlihat sedikit bingung karena masih dalam kondisi sadar.

Saya ada dalam acara pembukaan pameran malam ini, bukan party di sebuah klub. Beberapa tahun belakangan, adalah hal biasa menemukan ajang “ajeb-ajeb” pada pembukaan pameran. Mendadak disko. Hahaha… entah siapa yang memulai memindahkan suasana klub ke dalam galeri seni. Tak perlu tata suara puluhan ribu watt, hanya diperlukan laptop, pemutar cd & mixer portable, serta sound out minimalis maka terberkatilah menjadi sebuah pesta. Sedikit dari para perupa itu juga sudah berprofesi sebagai DJ amatir yang tampil hanya dengan memutar lagu-lagu idola mereka.

Harusnya saya akan merekam pertunjukan terakhir malam itu, hanya saja baterai kamera digital saya habis terlebih dahulu. Saya menyesal merekam sesi penari sexy diawal tadi. :D

25 Agustus 2008

Seringai Bangsat!!

8th Slackers Anniversary, Terrace Cafe, 24 agustus 2008 

Para begundal hardcore Jogja berkumpul dan sukses membakar Jogja bersama band rock oktan tinggi asal Jakarta dalam perayaan hari jadi distro terkemuka di jogja. 

Garda depan hardcore jogja; Mortal Combat, Nothing, dan Something Wrong, delegasi dari Jakarta yang berisikan veteran hardcore dan metalhead yang menolak tua; Seringai, aksi rock n roll; Coffin Cadilac, dan juga Dub Youth. Dengan line-up seperti ini jogja bukan hanya akan dibakar, tapi dihancurkan rata dengan aspal. Jogja yang selalu dingin di malam hari sepertinya sudah memberi sinyal akan panasnya malam ini. Venue yang dipilih pun cukup pas, yakni di Terrace Cafe, yang berada di utara. Jogja adalah kota wisata, dan disini arah mata angin menunjukan ragam wisata yang akan dituju. Seorang kawan pernah bercanda ”Kalo bagian selatan jogja tuh kita bisa wisata budaya, tapi kalo daerah utara itu wisata birahi..”. Haha.. yap. Saya merasa seperti bukan di Jogja tiap kali berada di utara. 

Kembali ke gigs. Saya selalu telat datang. Saya dan bugisan wild crew baru tiba sekitar pukul 10, kami melewatkan Mortal Combat dan Nothing. Band yang saya sebut terakhir, mungkin akan sedikit mengingatkan anda pada Walls Of Jericho, kalau tidak mau menyebut Step Forward. Beruntung saya masih sempat menyaksikan aksi oldskull paling tua di Jogja, Something Wrong. Pemandangan yang hanya bisa saya liat di DVD Agnostic Front live at CBGB tersajikan disini. Mereka masih tetap cadas. Tak heran, sehabis mereka main pun, sebagian besar penonton masih berteriak mengharapkan Encore. Venue sepertinya sudah panas dari tadi. Saya bersyukur karena tidak ada band metalcore yang main, kekhawatiran akan munculnya banyak poni lempar ber-skinny jeans pupus sudah (Oops...!). Wajah-wajah lama terlihat, dan semuanya menyatu dalam mosh pit. Disini, gigs sudah harga mati akan menjadi ajang reuni. Band selanjutnya Coffin Cadilac, sebenarnya mereka terhitung band lama, hanya saja susah sekali menemukan mereka di atas panggung. Sang vokalis terlalu asik dengan side projectnya The Southern Beach Terror. Mereka bermain all out dan cukup baik namun penonton di baris depan hanya memilih duduk manis, mungkin beristirahat karena baru dihajar Something Wrong.

Disela-sela acara MC sempat membagi-bagikan bir untuk penonton. Dua orang penonton wanita menghabiskan se-pitcher bir lewat beer bong. Kalau bukan karena cukup bening, saya pasti malas menyaksikan :D. Arian terlihat merekam momen ini. 

Sesaat setelahnya Seringai akhirnya didaulat ke panggung, dancefloor yang tadinya sempat lengang langsung penuh. Saya tidak ingat urutan lagu yang dimainkan, hanya dalam hitungan detik setalah Seringai memulai setnya, saya sudah hanyut dalam lautan mosh. Seorang teman sempat bingung melihat saya. Yah....saya hanya akan terlihat di dancefloor saat ada band Ska atau Reggae yang pentas. Seringai berhasil memaksa saya melakukan ini. Yang saya ingat, di lagu-lagu awal mereka memainkan Berhenti di 15, Citra Natural, Akselerasi Maksimum, dan Membakar Jakarta. Sangat menyenangkan menyaksikan band kesukaan memainkan set panjang. Venue penuh sesak. Terrace cukup kecil jadi tiket yang dijual hanya dibatasi 300 lembar, banyak penonton yang akhirnya menunggu keajaiban diluar dengan wajah memelas :-). Anehnya, teman saya Pandu, yang juga kehabisan tiket tiba-tiba sudah terlihat diatas panggung, merebut mik dari arian dan berteriak ”i wanna drink” saat Seringai memainkan Alkohol. Baru saya ketahui belakangan ternyata pandu masuk dengan cara yang sungguh najis, mengintit, dengan rombongan Dub Youth. Di awal pentas -mungkin karena melihat banyak sekali wajah lama yang hadir- arian sempat berujar mendedikasikan penampilan mereka kali ini untuk ”oldskull”. Saat memainkan Anti Social para ”orang tua” itu ikut sing along. Gufy dari Kongsi Jahat Syndicate yang (kembali) mengorganize acara ini juga hanyut dalam mosh. Seringai kemudian menutup penampilan mereka dengan Lencana, Neraka Jahanam yang didedikasikan untuk Ahmad Albar dan Individu Merdeka yang membuat seisi venue tak henti-hentinya berteriak.

Harusnya saya ingin merayakan kebisingan dengan bunga malam ini, tapi ikut membantu menghadirkan teman didepan idolanya juga menyenangkan. Teman saya, Pakde we, termasuk orang lama di hardcore, yang sudah menyukai Puppen sejak bangku smp. Dia ingin sekali menyaksikan Arian dengan Seringai. Dan malam ini terpenuhi. Saat perjalanan pulang, pakde sempat bilang ”nyaris lengkap cal, hanya kurang satu... Homicide” hahaha.. ya. Kami mengidolakan Homicide juga. Tapi sepertinya akan menjadi mustahil. 

Pertunjukan Seringai baru saja usai namun saya baru sadar kalau saya masih saja merinding. Bangsat!

17 September 2007

Merayakan Romantisme Kebisingan

Merayakan “Romantisme” Kebisingan, Lintas Gigs, dan Reuni

Kinoki-Purnabudaya UGM
080907

Semua mata kemudian tertuju ke tengah-tengah kafe, seperangkat penghasil bunyi-bunyian “kotor” telah tersusun rapi dan duduk manis sambil tersenyum menunggu dihantam. Kinoki, malam itu disulap menjadi sebuah pesta kebun yang penuh bising. Saya juga bunga serta semua orang yang ada di Kinoki berdiri mengitari 5 orang -bernama tengah noise- dan memasrahkan jiwa saya untuk diracuni malam ini. Sumber kebisingan berada ditengah-tengah sana. Tapi ada yang lain dari mereka malam ini, Jimi -yang biasanya menyumbangkan suara-suara Psychedelic dengan gitarnya- malam itu memainkan keyboards. Dan (nantinya) hingga sejam setelahnya, mereka terdengar seperti The Doors yang memainkan lagu-lagu dari Sonic Youth juga The Stooges.

Dulu saya pernah menyimpulkan, kalo Seek Six Sick hanyalah susunan partikel-partikel kecil puisi, dan sisanya dipenuhi kebisingan, namun malam ini mereka melengkapinya dengan satu formula yang beda, Romantic, yap.. Mereka sangat romantis malam ini. Sangat-sangat manis. Jauh lebih manis dari Carpenters sekalipun. Hanya untuk malam ini. Bukan karena Bofag menyanyikan Noise Rock Song, kemudian pesta penuh bising ini digelar di sebuah kafe dengan taman yang indah. Saya sedang berbunga-bunga dan datang bersama Bunga malam ini. Terberkatilah semua kebisingan menjadi romantis. Kebisingan yang romantis.

Apakah ini deja vu atau bukan, Setiap kali melihat aksi-aksi Bofag, saya selalu merasa diculik Ian Curtis. Menari-nari meliukan tubuhnya, berputar, kemudian menjatuhkan tubuhnya, ekspresif, dingin tak jelas. Dia terlihat seperti orang sakit. Bofag memang pintar berakting. Aksi-aksi mereka memang sayang kalo dilewatkan begitu saja.

Saya tahu Bofag-lah orang yang paling berani malam ini. Hingga dia tak perlu mengumbar-ngumbar sumpah tidak penting seperti I’m anti macho Rockstar, atau I Hate Adidas. Saya hanya ingin mendengarkan Rock N Roll Suicide dan Merayakan Kebisingan. Namun tak kunjung dibawakan. Ah.. tak apalah Supermodel Kills Supermarket Deals dan I Wanna Be Your Dog milik The Stooges sudah lebih dari cukup untuk saya.

Banyak orang-orang hebat terlihat disini (Setidaknya bagi saya mereka hebat). Barisan pasukan Armada Racun, Venzha, Belajar Membunuh, juga the one n only Wok The Rock, Punker gaek ini memang tak ada matinya.

Saya meningggalkan kinoki pukul 11, dan sengaja melewatkan Midijunkie mendengarkan suara-suara sintetis dari perangkat digitalnya. Saya kurang tertarik. Venzha tetaplah yang terbaik untuk saya.

Petualangan berlanjut ke Purnabudaya, ada Death Vomit dan Raja Singa disana, tapi saya tak berniat sama sekali menyaksikan mereka. Misi saya kali ini, hanyalah menemukan Pakde We. Dan kemudian mempermalukan Pakde Igit didepan temen-temennya. Oh… tak disangka, baru saja masuk ke venue, saya sudah dikagetkan dengan kehadiran Dito, ya..Dito. gitaris band Thrash Metal, Unveils. Sejak mengenal Dito, kamar kos saya langsung berubah jadi perpustakan mini. Hahaha.. (balikin buku-bukukuuuu…). Dito yang malam itu datang bersama istrinya sangat lain dari biasanya. Rambutnya di cat warna-warni, begitu juga dina, biar terlihat serasi mungkin. Setelah menikah nampaknya banyak perubahan yang terjadi pada dito. Hehehe…Tetap langgeng ya pakde!!

Maksud hati pingin ngerjain Pakde Igit malah berubah menjadi aksi seru-seruan dadakan. Di gig ini, beberapa teman lama juga hadir. Selain pakde-pakde “Bugisan Wild Crew”, ada Jack, drumer band lama saya, juga Otep. Ah.. gigs memang ajang reuni bagi saya juga teman-teman saya. Kami semua dipertemukan gigs, dan disatukan kembali lewat gigs. Kembali pada fitrahnya. Dasar banci gigs.

Haha.. Harusnya tulisan ini sudah saya post seminggu yang lalu, hanya saja otak saya makin lama makin lemah saja. Kebanyakan mbojo efeknya kurang baik untuk saya. hehehe… yowis, slamat menunaikan ibadah puasa! Tetap Liar!!!


merayakan17september07
01.25pm
inspiredbysigitsrums

29 Agustus 2007

SERINGAI

SERINGAI
Liquid, Jogja 27 Agustus 2007

“Ekspektasi berlebihan terjawab sudah…”

Malam 27 Agustus lalu Jogja begitu dingin, sangat dingin -hingga saya harus mengenakan berlapis-lapis tshirt, tidak ketinggalan cardigan favorit saya-. Sudah pukul 9, dan saya baru akan beranjak ke venue untuk menyaksikan konser paling ngerock di jogja minggu ini. Harusnya pakde-lah orang yang beruntung menemani saya malam ini (hehehe..), hanya saja kenyataan berkata lain. Sejam sebelum acara berlangsung saya membatalkan janji dengan pakde (hehe..maapkan ponakan, pakde). Dan The lucky bastard malam ini adalah teman baru saya yang bernama “bunga”. Kita namakan dia “bunga” hehehe..(Tampaknya saya terlalu terobsesi dengan semua yang bernama bunga).

Salahkan Arian (Vocal), Khemod (Drums), Rick (Gitar), dan Sammy (Bass) kalau saya berhasil “memaksa” dan meyakinkan teman baru saya –yang berkata akan tidak nyaman karena ini bukan dunianya- untuk menyaksikan sebuah pertunjukan rock. Lebih pukul 22.00, saya tiba di Liquid. Kebiasaan buruk saya belum hilang juga, telat. Namun kali ini alasannya lebih baik dari sebelumnya, saya harus menjemput bunga yang baru selesai kerja tepat pukul 21.30. Parkiran penuh, hanya beberapa orang yang terlihat diluar venue. Sudah bisa saya pastikan kalo gigs ini akan berlansung seru dan panas, jogja akan dibakar malam ini. Di stage terlihat The Southern Beach Terror sedang beraksi. Didukung dengan Sound yang maksimal, Trio Surf Rock ini tampil sangat baik, ada wajah baru disana, Nadya -yang lebih sering terlihat tampil dengan Armada Racun- ikut ambil bagian di departemen keyboard. Oh, Damn! Ternyata The Southern Beach Terror adalah band terakhir sebelum Seringai, dan saya melewatkan Sleepless Angel, Hands Upon Salvation, juga Cranial Incisored.

Gepeng KK yang didaulat menjadi MC, selalu saja menghibur dengan umpatan “Asu” yang terdengar tanpa beban diucapkannya. Sebelum Seringai tampil, para metalheads disuguhkan dengan video klip dari single kedua mereka, Citra Natural.

Beberapa saat kemudian, samua lampu yang langsung menyorot ke stage serentak dimatikan, satu persatu personil kemudian terlihat telah bersiap-siap. Dan intro Akselarasi Maksimum pun terdengar –dari gitar Rick, yang selalu saja memukau dengan riff-riff anjingnya dan sound gitar yang tebal menyayat, slashing bass nakal, serta gebukan drum penuh energi dari khemod- diikuti dengan masuknya Arian, yang malam itu mengenakan tshirt Komunal, Mosh pit pun tak terelakan lagi.

“JOGJA……FUCKIN..RAWWKKSS..!!” saya tidak jelas mendengar apa yang dikatakan Arian, kurang lebih tiga kata itulah yang terdengar sebagai kalimat pembuka yang diteriakan Arian. Selanjutnya berturut-turut Berhenti di 15, Diskodoom, Citra Natural, dan Amplifier dibawakan. Mungkin cuma Seringai-lah, satu-satunya band yang terang-terangan dan dengan sangat yakin mengajak penonton untuk menolak tua dan meneriakkan “Alkohoooolll…!!!”. Semuanya slamdancing, moshing, dan ber-sing along hampir di semua lagu tidak terkecuali saya. Saya berada tepat disamping stage dan melihat betapa liarnya penonton malam itu. Ini bukan pemandangan yang asing, tapi energi yang ditumpahkan dari atas sana, ditambah aroma alkohol yang memenuhi ruangan, juga teman baru yang bernama bunga, membuat malam ini menjadi lebih menarik.

Bukan Arian13 namanya kalau tidak pintar berkata-kata. Berbagai macam sumpah serapah mengalir deras dari mulutnya ketika melihat tingkah pola serigala militia yang ada di Liquid malam itu. Hingga tiba saat dia tersadar (untuk sementara) dan kemudian berujar “Oh..Maaf saya khilaf, maaf Liquid… INI KONSER ROCK!!!hahaha..”. Dan seisi venue pun menyambutnya dengan teriakan penuh semangat.

Keempat rocker ini sempat berembug dan membuat lingkaran kecil (layaknya ritual wajib band-band rock sebelum manggung) saat binggung harus membawakan lagu apa. Beberapa penonton terdengar meminta agar lagu dari Puppen dibawakan. Ini Seringai, tak ada Puppen disini. Kemudian terdengar “Individu….individu merdeka...!!”, bassis Sammy, serta gitaris Rick, ikut mengajak penonton untuk menyanyikan lagu yang termasuk dalam materi album “Serigala Militia” ini. Selanjutnya Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan), sebuah wujud protes terhadap kesewenangan pihak-pihak yang sudah seperti Tuhan. Lencana dan pastinya Membakar Jakarta yang harusnya menjadi penutup gigs ini kemudian dibawakan. Namun teriakan “We want more…” malah terus bergema saat Seringai harus mengakhiri penampiannya. Sebuah cover version milik Anthrax “Anti Social” akhirnya didaulat menjadi encore untuk kembali menghajar semua metalheads pada gigs yang (ternyata) diprakarsai oleh Kongsi Jahat Syndicate.

Kemampuan musikalitas tinggi, kenakalan dan atraksi prima vokalis, aksi-aksi memukau dengan energi maksimum yang tercipta, liarnya semua metalheads, hingga reuni dengan teman lama, dan teman baru bernama “bunga” membuat saya semakin yakin, Tuhan saya malam ini adalah SERINGAI. Hail!!!


ex
merayakan29agustus07
03.00tillcollapse
inspiredbysigitrums

NB:asem iks..potone eleks..
postergigs diambil disini

03 Juli 2007

Tony Q at Jamaica Bar

Tony Q at Jamaica Bar
Saturday, June 30 2007
Butuh waktu hampir 2 minggu untuk memastikan benar tidaknya Tony Q bakal mampir ke Jamaica Bar. Sehari sebelum hari H akhirnya seorang teman -yang memberitahu perihal kedatangan Tony Q pada saya semingguan yang lalu- memberikan pamflet yang berisikan tentang event reggae di Jamaica Bar dengan ¼ space pamfletnya tertulis “Quest Star: Tony Q”. Ow… yap. Langsung saya putuskan, malam minggu kali ini hanya untuk Tony Q. Jikalau saja alarm ponsel saya tidak berdering tepat pada waktunya, saya pastinya akan melewatkan malam paling nge-roots dalam juni ini. Yeah..nge-Roots! Tony Q gillaaa..
Saya tiba di Jamaica bar sekitar pukul 10, dan tralala… pemandangan yang sudah tergambar lebih dulu dipikiran saya, tersedia didepan mata. Gerombolan pemuda bergimbal, dengan atribut kebanggan merah, kuning, ijo dari ujung kaki hingga rambut (hahha…berlebihan). Yah..mereka terlihat teramat sangat menyenangkan dengan semua yang melekat pada tubuh mereka, tapi saya gak tau apakah para dreadlocks itu paham dengan semua simbol yang melekat ditubuhnya itu. Biarkan sajalah.
Saya bukanlah tipe orang yang nyaman sendiri di keramaian, jadi saya putuskan untuk menghubungi beberapa teman sebelum masuk ke dalam bar yang baru resmi dibuka sebulan lalu ini. Dan ternyata dua orang teman saya sudah berada didalam sejak jam 9 tadi.
Seorang teman yang pernah menyambangi Apache bar di Bali pernah bilang “Gila.. Apache..baru dipintu masuknya aja, atmorfer reggaenya udah kerasa”. Tapi saya rasa, akan sangat mungkin dia menarik ucapannya ato malah lebih berhiperbola jika sudah pernah ke Jamaica Bar di Jogja. Venue malam itu tidak begitu ramai, tapi saya merasa seperti bukan di Jogja..hmm.. ya.. saya di Kingstone!! hahaha… beberapa pemusik reggae Jogja juga terlihat diantara penonton. Di panggung Jogjamaica sedang beraksi memainkan beberapa tembang reggae dari yang ngeroots hingga dancehall. Saya berada tepat disamping panggung bersama kedua teman saya. Tak berapa lama, Intro lagu “Witing tresno” pun terdengar, tapi hey..dimana nih yang nyanyi?? Dion (Vokalis Jogjamaica) tiba-tiba menghentikan lagunya dan berseru pada penonton “kayaknya gak asik kalo kita bawain lagu orang, trus orangnya ada disini..gimana kalo kita panggil penyanyi aslinya..??? Ok? Tony Q….” beberapa penonton yang dari tadi hanya duduk manis langsung menuju ke dance floor, tak terkecuali saya dan kedua teman saya. Ternyata “Don’t Worry U yeah” dari album “Salam Damai” yang dipilih Tony untuk memulai penampilannya. Lagu yang dalam versi aslinya dinyanyikan bersama Steven Coconuttreez, kali ini dinyanyikan bersama Dion Jogjamaica. Suaranya yang khas masih terdengar prima, Tony Q dan band kemudian melanjutkan dengan “Rambut Gimbal”. Dance floor pun makin panas, semua orang ikut bernyanyi dan berdansa. Seorang teman yang sedari tadi hanya sibuk mengabadikan Tony Q dengan kamera pinjamannya kemudian menghampiri saya, dan menyalakan sebatang dedadunan wangi yang telah terbungkus rapih. Ah..bangsat ni anak, kebiasaanya blom ilang juga. Saya lebih memilih bernyanyi saja daripada ikut campur dalam hal satu ini hehehe..
Tony bernyanyi kurang lebih enam lagu, termasuk No Woman No Cry, Get Up Stand Up, dan juga satu lagu baru yang termasuk dalam materi album barunya. Maklum saja dia gak nyanyi banyak lagu, malam ini judulnya hanya Jaming. “Pesta Pantai” pun tidak dibawakannya. Tapi gak masalah, yang penting Reggaeee…. Hahaha…
Diakhir penampilannya Tony sempat menyampaikan rasa salutnya pada komunitas reggae di jogja, karena Jogja memiliki komunitas reggae yang cukup kuat dengan jumlah band reggae cukup banyak. Hanya saja Tony Q mungkin tidak tahu kalo band reggae berkualitas di Jogja bisa dihitung dengan jari.
Penampilannya berakhir hampir pukul 1, tentunya saya dan teman saya gak mau melewatkan untuk berfoto dengannya. Haha..yah… ritual wajib pemuja dan idolanya kikik…akhirnya puaaassss.
….hmm..sudah pukul 1, Waktunya kita pulang, Kopi Panas, dan Slamat Malam.

foto lainnya disini