24 Desember 2013

Hari ke-2 di Kuala Dua Belas

Belum genap pukul 7, pagi ini kami sudah berada di speed lagi. Jeri akan mengantar kami ke Penangkis. Awalnya dia akan mengantarkan kami dengan ketek, tapi untuk alasan keselamatan (tak ada yang bisa berenang), maka dia memilih speed.

Hanya sebentar menyusuri sungai kuala 12, speed berbelok ke kanal yang mengarah ke penangkis. Di sini kami mendapati seekor monyet yang sedang asik bergelantungan. Burung-burung terbang rendah. Bangau-bangau berpose cantik di tepian tambak-tambak yang terhampar luas. Tampak 1-2 rumah di kejauhan, diantara tambak-tambak itu.

Tapi air di kanal masih terlalu surut untuk dilalui speed. Maka kami kembali untuk mengganti ketek, dengan segala resikonya.

Kali ini Pak Yonsong yang akan mengambil-alih kemudi. Sambil menunggu Pak Yonsong datang, saya berbincang dengan anaknya Jum, yang kabarnya tak begitu waras.

"Kakak orang mana?" tanya saya.

"Sulawesi."

"Bugis?"

"Iya di sini mayoritas Bugis. Kalo di seberang sana komunis." kata Jum sambil tergelak.
Tapi saya tidak menganggap Jum tak waras, hanya selera humornya cukup unik. Dan orangnya pun baik.

"Mau kemana?" tanya Jum saat melihat saya akan beranjak.

"Penangkis."

"Hati-hati di sana banyak monyet," pesan jum.

Perjalanan jadi lebih lambat dengan ketek dibanding speed bermesin 40 PK. Tapi kami jadi lebih menikmati pemandangan. Kami tak menemui lagi monyet bergelantungan. Namun kali ini, burung pelatuk berwarna hijau dan biru keemasan bermanuver di sela-sela pohon nipah menyambut kami.

Hari ini para petani tambak gotong royong memanen udang. Di dekat tambak yang dipanen itu bangau-bangau terbang rendah dan berjejer mendekat.

Menjelang siang air di kanal-kanal sudah pasang dan bisa dilalui ketek dengan mulus. Lajulah kami menyusuri kanal-kanal itu...

✕

14/12/13

Menyalami Pantai Timur

 
Bagi pejalan oportunis yang terlalu sering dibuai kenyamanan kota dan kecanggihan gadget, mendatangi tempat-tempat terpencil adalah pengalaman berharga nan langka. Jadi kami mengabadikan momen dimana pun: mulai dari pelabuhan speed hingga terminal bis antar kota dalam provinsi. Iya, terminal!

Pagi ini, kami berada di dermaga (bom) Selapan, menanti keberangkatan speed yang akan mengantarkan kami ke Kuala Dua Belas, sembari ngopi-ngopi dan berfoto di unjung dermaga.

Kekaguman saya akan tempat ini dimulai saat speed mulai bertolak dari dermaga. Dulu saya selalu beranggapan bahwa tempat tercantik di negeri ini adalah Papua dan Sumba. Ternyata itu karena saya belum pernah menyusuri sungai-sungai di Sumatera saja.

Selepas bom Selapan, beberapa kali kami melewati kampung-kampung yang dibangun di atas rawa/sungai. Ada yang 6 rumah saja, ada pula yang belasan hingga puluhan dengan posisi rumah saling berhadapan di tepian sungai. Tentu saja rumah-rumah itu berbentuk panggung. Banyak pula rumah yang difungsikan sebagai rumah walet.

Kawanan kerbau rawa dengan bangau di atasnya turut mewarnai perjalanan kami. Seringkali kami berpapasan dengan speed lain. Jika speed tidak melambat, maka siap-siap untuk terguncang dan kecipratan gelombang sungai yang pecah akibat hantaman speed.

Setelah 2 jam perjalanan, speed kami melalui sungai yang lebar. Sekitar 50 hingga 100 meter. Kedua sisi sungai dipenuhi pohon-pohon nipah. Speed kami tak terlalu berguncang saat berpapasan dengan speed lain, namun kami harus melaju meliuk-liuk untuk menghindari tanaman eceng gondok dan batang-batang pohon yang mengapung di tengah sungai.

Tak banyak lagi kampung yang kami lewati. Tak lama, tibalah kami di laut. Untuk menuju Kuala Dua Belas, kami harus menyusuri sungai, melewati laut menyentuh selat Bangka, lantas masuk lagi ke sungai. Kali ini burung puntul (bangau berparuh kuning) yang kami temui lebih banyak. Sebagian terbang menghiasi langit, sebagian lagi bertengger di ranting-ranting bakau.

Tak jauh dari muara, tibalah kami di Kuala Dua Belas. Kami langsung menuju rumah pak Burhan, kades Kuala Dua Belas yang lama dan disambut  Jeri, anak lelakinya yang langsung meminta istrinya untuk membuatkan kopi.


"Sudah makan siang?" tanya Jeri yang siang itu menyambut kami di teras rumah, "Kami baru panen udang tadi. Kita makan siang dengan udang ya." 

Begitulah keramahan perkampungan pantai timur sumatera yang kali pertama saya temui.

Maka siang ini, kami makan dengan udang yang baru saja dipanen diiringi paduan suara burung walet: suara burung walet sebenarnya dan rekaman suara burung yang diputar untuk memancing walet-walet itu.


✕

13/12/13

20 November 2013

Simbah Sangoni Slamet

Serupa sore-sore lainnya di tiap November, jumat sore tadi Jogja hujan deras. Saya menepi untuk berteduh di emperan toko 24 jam dan berbincang dengan seorang nenek yang juga sedang berteduh. Sebelumnya sang nenek memindahkan barang-barangnya dari emperan toko ke seberang jalan.

Namanya Mbah Sinah. Siang hari Mbah Sinah berjualan baju bekas di depan toko, dan sore hari dia pindah ke seberangnya, tempat dia tidur sepanjang malam. Tempatnya tidur itu siangnya dipakai untuk tempat lesehan bagi pelanggan bakso PK yang selalu ramai di ujung jalan Pakuningratan.

Beberapa kali, di penghujung malam yang dingin dan sepi, saya berjalan kaki melewati “rumah”nya itu dan mendapatinya tidur berselimut putih tipis dan beralas karton.

Sore tadi akhirnya saya berkesempatan untuk berbagi cerita denganya. Saya duduk di sebelahnya. Memperhatikan senyumnya dalam-dalam. Raut wajah yang mungkin sudah lebih 80 tahun. Kami berbincang lama. Nenek itu -yang berasal dari Bantul- bercerita tentang kenapa dia lebih memilih menghabiskan siang-malamnya di emperan toko dan tidak tinggal dengan saudaranya di Bantul atau mungkin kos di sekitar situ, “di sini (emperan toko), saya punya banyak saudara.” katanya, sembari menyebut orang-orang yang tak dikenalinya yang hampir tiap hari singgah untuk sekedar memberi makanan atau membelikannya obat kala dia sakit. 

Mbah Sinah bercerita lepas. Sesekali dia tertawa. Saya tak tahu, mungkin dia jarang mendapat teman ngobrol. Yang saya tahu, ada sedikit bahagia dalam tawanya. Meski yang diceritakannya adalah kesedihan bagi saya.

Perbincangan kami berakhir saat hujan mereda. Saya pamit. Dan tak bisa memberinya sesuatu yang lebih berarti sore tadi. Namun sang nenek sambil tersenyum tulus berpesan singkat —pesan yang dalam perjalanan saya sadari sebagai doa dan lantas saya aminkan, “Simbah sangoni slamet ya…”

✕

Jogja, 15 November '13

03 September 2013

Merantau


Dalam tradisi Minangkabau, setiap anak laki-laki akan pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka, dan mencari pengalaman hidup. Pengalaman hidup yang akan membuatnya menjadi lelaki sejati. Pengalaman mencari perjalanan hidup itu adalah merantau. Alam takambang jadi guru. Alam semesta menjadi guru, yang akan membedakan cahaya kebenaran dan cahaya kesalahan. Begitulah petuah Wulan (diperankan Christine Hakim, yang di usia paruh bayanya, masih terlihat cantik) kepada Yuda (Iko Uwais), anak lelaki yang hendak dilepasnya.

Berbekal pakaian di badan, tulang 8 kerat, kemampuan silat dan kalung peninggalan sang bapak, pergilah Yuda meninggalkan kampuang yang tenang di Tanah Minang. Pergilah anak lelaki itu merantau.

Di perjalanan, Yuda bertemu dengan Erik (Yayan Ruhian), sesama orang minang yang telah lebih dulu merantau. Erik yang sejak awal telah memperhatikan Yuda sebelum naik bus, mendekati dan berbincang-bincang dengan Yuda dalam perjalanan. Dalam obrolannya, Erik menasehati Yuda agar tak perlulah jauh-jauh merantau hanya untuk mengajarkan silat. Erik pun menyarankan Yuda untuk mengubah haluan. Yuda, kata Erik, bagai refleksi dirinya 15 tahun silam. Boleh jadi Erik adalah contoh kecil perantau Minang yang belum berhasil, atau boleh jadi Erik ingin Yuda mengubah haluan menjadi penjual Nasi –seperti umumnya perantau Minang yang sudah sukses. 

Dan berpisahlah Yuda dan Erik saat tiba di Jakarta –kota berdaya magnet besar bagi para perantau. Dengan selembar kertas alamat yang dimilikinya, Yuda mendatangi rumah saudaranya. Tak disangka, rumah yang dituju sudah tak ada lagi, hanya nomor rumahnya saja yang masih terpasang di pagar. Nomor telpon yang tertera pun tak bisa dihubungi. Praktis tak ada sanak saudara lagi yang dituju. Padahal kalo Yuda tahu, dia bisa saja mengaku orang Minang, dan menginap di Warung Minang mana saja yang dia temui. Konon, kekerabatan orang Minang sangat erat, mereka akan membantu dan memberikan tumpangan bagi siapa saja perantau dari sana. Yah tentu saja, dengan imbalan mencuci piring di Warung. :D

Petualangan Yuda berlanjut. Esoknya saat sedang makan, dompetnya dicuri Adit, adik dari Astrid (Sisca Jessica) penari amatir di Club Agogo. Astrid ditolong Yuda saat penari itu nyaris disiksa Johni, sang mucikari yang meminta presantase tips lebih besar untuknya. 

Setelah adegan tolong-menolong itu, sepanjang film ini banyak dihiasi adegan perkelahian, pecahan kaca, gelas dan botol beterbangan, dan adegan berdarah-darah, antara Yuda dan anak buah Johni, bule pelaku penjualan perempuan hingga dengan Erik, teman seperjalanan Yuda ke Jakarta yang ternyata seorang preman. Lama setelah film-film yang dibintangi Barry Prima dan Advent Bangun, rasanya tak ada lagi film laga dengan perkelahian seru seperti “Merantau” ini.

Perjalanan Yuda berakhir di terminal peti kemas, saat Yuda, dengan heroiknya berhasil menggagalkan praktek penjualan perempuan yang dilakukan dua warga berkebangsaan asing. Oleh pelaku penjualan perempuan itu lah nyawa Yuda melayang.

Perantau itu pun mati muda. Alam semesta, sang guru, menghendaki anak lelaki itu naik kelas dengan segera.

✕

Ya, saya tahu. Ini review (atau apalah) yang sangat terlambat. Film ini dirilis tahun 2009 dan sudah lama mengisi HD, namun baru saya tonton. Liputan kompas Minggu (01/09) tentang Warung Nasi Minang dan Rendang membuat saya ingin menyaksikan film ini. Memang tak ada adegan memasak rendang atau makan di Warung Minang. Benang merah dari liputan kompas itu dan film ini adalah perantau dan "alam takambang jadi guru".