*Foto dari Instagram Indra Menus.
10 September 2018
Joe Million x Indra Menus: Ketika Hip Hop dan Harsh Noise Bersekutu
*Foto dari Instagram Indra Menus.
05 Oktober 2016
Dialita - Menyanyikan Lagu-Lagu Bisu
“Sebagian lagu di album ini diciptakan sebelum ’65. Pasca ’65, lagu-lagu ini tak lagi terdengar. Kami menyebutnya lagu-lagu bisu. Lagu-lagu yang dibungkam.” – Dialita, 1 oktober 2016
Pasca tragedi ’65, ibu Siti Jus Djubariah ditangkap dan ditahan di penjara perempuan Bukit Duri (1965-1971), lalu pada 1971 dikirim ke kamp Plantungan bersama puluhan tahanan lainnya dan sempat dipindahkan ke penjara di Bulu, Semarang, sebelum akhirnya bebas bersyarat pada 1978. Ibu Siti Jus Djubariah yang seorang guru, ditahan dengan ratusan perempuan beragam profesi lainnya tanpa pernah tahu apa kesalahannya. Mereka ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.
Ibu Jus menulis lagu “Ujian” di penjara Bukit Duri. Bermula dari kegiatan bermain kasti bersama yang dilakukan seminggu sekali –yang bahkan saat hujan pun tetap mereka lakukan- untuk menghibur dan menumbuhkan semangat para tahanan. Pada suatu waktu, ibu Jus mengumpulkan kawan-kawan untuk belajar bernyanyi bersama lagu “Ujian”, bati per bait, lagu yang menjadi penyemangat bagi para tahanan.
“Dari balik jeruji besi hatiku diuji… apa aku emas sejati atau imitasi… ”
1 Oktober 2016, 51 tahun setelah tragedi ’65, lagu itu dinyanyikan kembali dengan lirih oleh ibu Sri Nasti Rukmawati dan ibu-ibu Paduan Suara Dialita di depan lebih dari 200 penonton di Taman Beringin Soekarno, Universitas Sanata Dharma.
Ada sedikit kekhawatiran pertunjukan ini akan terganggu oleh kehadiran ormas-ormas intoleran. Setahun terakhir “kenyamanan” Jogja sebagai kota Seni dan Budaya –juga kota yang toleran— sedikit goyah akan perilaku ormas-ormas ini. Pada 2016, setidaknya 2 pameran seni (Lady Fast di Survive Garage dan Idola Remaja Nyeni di Galeri Independent Art Space) serta acara diskusi dan pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Beta” di Sekretariat AJI Yogyakarta dibubarkan. Belum terhitung aksi-aksi damai di ruang publik yang berakhir panas karena dihadang ormas.
Pemilihan Taman Beringin Soekarno sebagai venue pertunjukan punya alasan yang kuat: berada di lingkungan kampus yang bebas dari intimidasi ormas, pihak dosen maupun rektorat Universitas Sanata Dharma mendukung rekonsiliasi tragedi 65 serta keberadaan pohon beringin yang ditanam sendiri oleh Alm. Soekarno pada 1960.
Hadir sebagai pengiring Dialita: Leilani Hermiasih (Frau), Nadya Octaria Hatta, Bagus Dwi Danto (Sisir Tanah), Prihatmoko Moki, Lintang Raditya dan Kroncongan Agawe Santosa. Panggung malam ini tentu saja milik ibu-ibu Paduan Suara Dialita: Utati Koesalah, Mudjiati, Elly Soetarjo, Sri Nasti Rukmawati, Tuti Martoyo, Hartinah, Murti, Uchikowati, Kurnia, Titi Ananta Toer, Yetti Hari Sapi’I, Irina Dayasih, Fidellia D., Hersiswanty, Mega TRG., Nancy Sunarno, Yohana, Resi Prasasti dan Ira Atmosukarto.
Pada awalnya biduanita Dialita adalah bagian dari “Keluarga Dalam Sejarah 65” (KDS 65), para keluarga penyintas tragedi peristiwa 1965, yang terdiri dari anak-anak yang ketika tragedi 1965 terjadi harus berpisah dengan orang tua dan keluarga. Bernyanyi, berkumpul, bercerita dan berbagi pengalaman dalam bertahan hidup adalah cara mereka, para keluarga penyintas untuk merawat harapan. Dari saling menguatkan, mereka memutuskan untuk membentuk sebuah paduan suara yang diberi nama Dialita, singkatan dari Di Atas Lima Puluh Tahun, usia kebanyakan anggotanya. Dalam perjalanannya, banyak kaum muda yang bergabung di kelompok paduan suara ini karena bersimpati pada perjuangan dan semangat Dialita dalam merajut hidup.
Dialita dibentuk secara kolektif pada 2011 diantaranya oleh ibu Uchikowati, ibu Mudjiati, ibu Astuti dan ibu Tunik. Dua anggota Paduan Suara Dialita adalah eks tahanan politik tragedi ’65 yakni ibu Utati Koesalah dan ibu Mudjiati.
Terbentuknya Dialita juga tak lepas dari upaya penyelamatan lagu-lagu yang lahir di kamp konsentrasi. Sejak 2005, ibu Utati Koesalah menulusuri kembali lagu-lagu ciptaan tahanan politik. Tujuannya untuk kembali merawat harapan, sekaligus sejarah tentang apa yang pernah terjadi di negara ini, agar tak terlupakan begitu saja. Perjalanan mengumpulkan lagu-lagu ini tak mudah. Karena di penjara, para tapol tak diperkenankan untuk menulis apapun. Sesederhananya bahagia, barangkali bahagianya ibu Utati Koesalah kala menemukan potongan kecil pensil dan kertas di yang bisa dipakainya untuk menulis lirik di dalam penjara.
***
Konser peluncuran album Dunia Milik Kita dibuka oleh Frau yang memainkan “Tarian Sari”, lalu bersama Nadya Octaria Hatta memainkan “Salahku, Sahabatku.” Frau kemudian mengundang ibu-ibu Dialita untuk tampil. Mengenakan seragam kebaya biru-hijau dengan bawahan kain batik ibu-ibu Dialita menempati panggung yang lebih tinggi dari dirigen dan musisi pengiring –yang setara dengan penonton. Panggung malam itu tepat berada dibawah beringin yang ditanam Alm. Soekarno.
Pada lagu pertama, Dialita menyanyikan “Salam Harapan”, lagu yang diciptakan ibu Zubaedah Nungtjik AR. & Murtiningrum di penjara Bukit Duri. Kala itu, lagu “Salam Harapan” dan “Tetap Senyum Menjelang Fajar” biasa dinyanyikan oleh ibu-ibu di depan sel kawan yang sedang berulang tahun dengan membawa sekuntum bunga yang dipetik di halaman penjara, sebagai ucapan selamat.
Dialita kemudian melanjutkan dengan “Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu”. Pada lagu “Ujian” suasana menjadi hening saaat ibu Sri Nasti Rukmawati menyanyikan bagian pertama lagu itu dengan lirih bergetar, “dari balik jeruji besi hatiku diuji, apa aku emas sejati atau imitasi.. tiap kita menempa diri jadi kader teladan, yang tahan air tahan hujan, tahan musim dan badai.” Dingin. Namun nuansanya berubah penuh harapan saat dinyanyikan bersama, “…namun yakin dan pasti masa depan kan datang, kita pasti kembali.”
Pada “Lagu untuk Anakku”, Dialita hanya diiringi dentingan gitar dan pianika. Ada kesepian saat Frau memainkan solo pianika. Lagu ini diciptakan oleh Heryani Busani Wiwoho dan Mayor Djuwito yang gelisah melihat ratusan ribu anak Indonesia yang tiba-tiba harus kehilangan orang tuanya karena dibunuh, dibuang atau dipenjara. Ibu Heryani lantas menuliskan lirik yang menggugah dan penuh rasa cinta kasih, “…Cita dan cinta lahirkan segala nan indah, di hari mendatang sayangku, jadilah putra harapan bangsaku.”
Di jeda antar lagu ibu Uchi beberapa kali menyapa penonton, menyatakan betapa bahagianya ibu-ibu Dialita bisa tampil di Taman Beringin Soekarno dan melangsungkan pertunjukan dengan kerja sama lintas generasi.
Konser ini dibagi dalam 3 sesi. Di jeda antar sesi, musisi pengiring Dialita bergantian mengisi panggung. Kroncongan Agawe Santosa mendapatkan kesempatan lebih dulu, saat ibu-ibu Dialita istirahat. Sambil menikmati keroncong yang syahdu, penonton juga bisa mengambil kudapan yang disajikan Bakudapan – Food Study Group di sisi barat panggung. Panganan macam Lumpia Sintrong juga sayur genjer disediakan Bakudapan. Resep kudapan ini juga disisipkan dalam booklet album Dunia Milik Kita.
Tuntas memainkan 2 lagu, Kroncongan Agawe Santosa mengundang kembali Dialita untuk tampil dan menyanyikan lagu berirama keroncong nan syahdu “Taman Bunga Plantungan.” Lagu ini diciptakan ibu Zubaidah Nungtjik AR. pada 1971 di kamp Plantungan. Kala itu, ibu Nurcahya, ibu Mia Bustam, ibu Rusiyati dan kawan-kawan bertugas membuat taman di kamp Plantungan yang semula merupakan rumah sakit untuk penderita Lepra. Ibu-ibu itu merubah alang-alang menjadi taman cantik dengan memanfaatkan bunga, batu-batu dan rumput dari area di sekitar kamp. Hasil kerja keras ibu-ibu itu yang mendorong ibu Nungtjik menciptakan lagu indah ini.
Pada sesi ketiga, ibu-ibu Dialita diiringi Sisir Tanah (Bagus Dwi Danto) menyanyinyakan lagu-lagu yang bernada lebih riang dibanding sesi sebelumnya. Lagu-lagu yang diciptakan sebelum ’65 lantas tak pernah terdengar lagi pasca ’65, yakni lagu “Padi untuk India” dan “Viva Ganefo.”
Pada tahun 1946, India yang masih dibawah jajahan Inggris mengalami krisis pangan sehingga rakyatnya menderita kelaparan. Sebagai bentuk solidaritas, Indonesia yang baru setahun merdeka mengirim 700 ton beras ke India. A. Alie kemudian merekam peristiwa itu dalam lagu “Padi untuk India.” Sedang “Viva GANEFO”, diciptakan Asmono Martodipoero untuk perayaan GANEFO (Games of New Emerging Forces), ajang olahraga yang diikuti oleh negara-negara Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa dan Amerika selatan. Perhelatan ini dimotori oleh Soekarno sebagai “balasan” atas skors terhadap Indonesia oleh Komite Olimpiade Internasional kala itu.
Dialita menutup konser malam itu dengan memainkan lagu “Persahabatan.” Di akhir pertunjukan tangan kanan ibu-ibu Dialita terkepal di udara. Mereka baru saja menuntaskan pertunjukan diiringi tepuk tangan panjang penonton. Mewakili Dialita, ibu Uchi mengaku bahagia melihat sebagian besar penonton yang datang adalah anak-anak muda –selain kerabat-kerabat dekat Dialita.
Walau kebanyakan sudah berusia lebih dari 50 tahun (ibu Utati Koesalah bahkan berusia 72 tahun), namun semangat ibu-ibu Dialita rasanya masih membara. 3 kali tangan-tangan itu terkepal di udara –saat meneriakkan Merdeka dengan lantang di lagu “Asia Afrika Bersatu” dan di akhir lagu “Viva GANEFO”.
Taman Beringin Soekarno, 1 oktober 2016. 51 tahun setelah tragedi ’65, lagu-lagu yang dibungkam: lagu-lagu yang diciptakan diam-diam dan dituliskan di potongan kertas, di tanah, di tembok penjara bukit duri, di salemba, di kamp pembuangan para tahanan politik; lagu-lagu bisu itu kini telah dinyanyikan kembali dengan lirih dan merdu.
03 September 2014
Pulang
21 Juni 2014
Bolakme
Puskesmas Bolakme terletak di antara SMPN Bolakme dan Kantor Desa Lani Timur. Di kompleks Puskesmas terdapat gedung puskesmas rawat jalan, gedung rawat inap yang tak difungsikan, serta perumahan untuk dokter –yang sesekali ditinggali, bidan, perawat dan kepala Puskesmas. Dikelilingi pagar kayu besi yang di bagian atasnya ditumpuk rerumputan kering dan ranting pohon kasuari yang ditumbuhi bunga terompet ungu. Pintu masuknya berbentuk gapura melengkung yang juga diatapi alang-alang. Banyak kompleks rumah honai, kantor, gereja dan sekolah di distrik-distrik di Kabupaten Jayawijaya berpagar dan bergapura alang-alang seperti itu. Alang-alang yang juga dipakai untuk atap honai.
Pada spanduk yang dipasang di ruang tunggu, tertera jam buka-tutup Puskesmas: 09.00 – 13.00 WIT.
13 Juni 2014
Wamena
24 April 2014
Reuni
“Aku berasa tua dengar lagu ini,” kata Anggi Satoko Saputro mengomentari lagu yang sedang dimainkan Laquena, “Liriknya masih tentang ‘pacaran’, itu lagu lamanya kan?”
26 Maret 2014
Sumber Air Masih di Situ-situ Saja
Yunus Tafuli, Kepala Sekolah SD Inpres Naimetan, Kuanfatu, sedang dalam penerbangan menuju Jakarta saat dirinya berkenalan dengan Agnes yang bekerja di stasiun TV. Di perjalanan Yunus berbagi cerita tentang pendidikan dan kehidupan di desa tempat tinggalnya. Agnes tertarik dan mendengar dengan baik cerita dari kepala sekolah berprestasi itu. Tapi kedua teman seperjalanan itu berpisah setiba di Jakarta. Agnes pulang ke rumahnya dan Yunus menuju rumah saudaranya di Lebak Bulus.
Keduanya tak saling menghubungi lagi hingga seminggu setelah Yunus Tafuli pulang ke Kuanfatu. Agnes menghubungi Yunus dan menyatakan ketertarikannya untuk melakukan pengambilan gambar iklan Aqua di tempat tinggal Yunus. Dan Yunus setuju untuk membantu.
Singkatnya, Agnes dan kru lantas terbang ke Kuanfatu di Timor Tengah Selatan.
SD Inpres Naimetan tempat Yunus Tafuli bekerja dipakai untuk set iklan itu. Siswa-siswa SD Inpres Naimetan juga kebagian peran. Salah satunya Deby Tafuli, anak Yunus, talent utama yang kebagian mengucapkan tagline "sekarang sumber air su dekat."
Itu kejadian yang berlangsung di tahun 2011. 3 tahun setelahnya, tepatnya 18 februari 2014, kami mengajak Deby Tafuli untuk mandi di kali sebab di kamar mandi rumahnya tak cukup banyak air.
Sumber air sebenarnya tak jauh. Masih di situ-situ saja. Kali di situ-situ saja. Sumur-sumur di situ-situ saja. Oemata juga di situ-situ saja. Di Timor, Aqua bersama ACF International dan CIS Timor memang membangun banyak sumur. Hanya belum ada saluran pipa air yang terhubung ke masing-masing rumah. Di banyak tempat di Polen, Amanuban maupun Kuan Fatu tak sulit mendapati mama-mama dan bocah-bocah kecil berjalan dengan jerigen dan ember di tangan maupun kepala.
✕
24 Maret 2014
Kefa
“Hari ini banyak yang ‘turun gunung’ hanya untuk beli sirih-pinang dan sopi,” kata Egidius Fallo, pemuda Kefa tulen. “Nanti jangan kaget kalau ketemu orang sempoyongan di jalan.”
22 Maret 2014
Pahmeto
Halo, Nona Merah!
✕
19 Januari 2014
Sayonara Sumatera
✕
16 Januari 2014
Tebing
Tak ada ketek ke Serdang siang ini (8/1). Saya terlambat, ketek menuju serdang telah bertolak dari bom (dermaga) Pampangan beberapa saat lalu. Hanya ada 1 ketek lagi, tapi hanya sampai ke Tebing: ketek yang berfungsi sebagai taxi bagi anak-anak sekolah dari Tebing. Tebing juga termasuk desa Serdang, hanya masih 30 menit perjalanan lagi untuk mencapai dusun 1 Serdang. Sembari menunggu ketek yang mungkin ada, saya memotret anak-anak SD asal Tebing tadi di dermaga. Siang itu ada pemilik ketek yang menawarkan penyewaan keteknya seharga 60 ribu. Saya menolak.
Seorang pengemudi ojek yang biasa mangkal di depan warung minang “Family” juga menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke Serdang dengan bayaran 40 ribu. Bagi saya kemahalan untuk perjalanan 11 km. “Tapi jalannya jahat nian,” kata ojek itu.
Saya agak berhati-hati. Sebelumnya kami pernah dikerjai: membayar 150 ribu untuk menyewa ketek yang biasanya bisa dibayar 30 ribu rupiah saja. Setelah gagal menawar dan menimbang-nimbang harga dengan kondisi jalan yang sehari sebelumnya tidak diguyur hujan. Akhirnya saya sepakat. OK, lajulah! 40 ribu!
Ojek lantas melaju menuju kearah kecamatan Pangkalampam, lantas masuk melalui jalan setapak kecil yang hanya cukup untuk 1 motor. Melewati jalanan jahat di antara rawa, lewat kebun balam yang berhektar-hektar luasnya dengan 40 ribu pohon karet berjejer rapih (kata pengemudi ojek, pemilik kebun balam tersebut seorang toke muda kaya raya asal Pangkalampam), lalu ojek kami melewati hutan kecil, lewat kebun karet lagi dan jalanan jahat lagi.
Rasanya ini jalan terjahat yang pernah saya temui selama 40 hari terakhir di selatan Sumatera.
Memang ngeri-ngeri sedap jalan tanah ini. Mungkin jalan ini tak berarti jika dilibas dengan Ford Ranger, tapi kali ini saya menumpang motor bebek dengan ban yang idealnya hanya beroperasi di jalanan aspal.
Saya agak pasrah. Apapun yang terjadi, lajulah. Kemungkinan terburuk kami tergelincir, lalu jatuh. Dan celana saya kotor. Itu saja.
Sekali motor kami melintas di atas jeramba kayu kecil yang disusun dari batang-batang kayu sebesar lengan saya yang kurus ini -yang nampaknya bisa ambruk kapan saja. Sesekali ban belakang motor kami terselip, Dan saya menahan napas berkali-kali saat ojek itu melaju.
Hingga kemudian selepas kebun karet, sebelum membelah luapan rawa yang menggenangi jalan, sang pengemudi ojek berseru, “Nah, itu serdang!”
Fiuuuhhh…
***
Serdang adalah salah satu desa terjauh yang termasuk dalam wilayah kecamatan Pampangan. Berbatasan sebelah utara dengan Sri Mulya, sebelah selatan dengan Kandis, sebelah barat dengan Pampangan-Ulak Depati dan sebelah timur dengan Deling-Jungkal. Serupa Pulau Layang, Serdang juga dikepung lebak (rawa) luas. Ada 11 titik rawa di wilayah Serdang: Lebak Teluk Padi, Lebak Serdang, Lebak Pare Ulu, Lebak Pare Ilir, Lebak Ujung, Lebak Sengulung Ulu, Lebak Sengulung Ilir, Lebak Batas, Lebak Keret, Lebak Buntuan, dan Lebak Lidah Tanah.
Namun berbeda dengan Pulau Layang, tak banyak kerbau rawa di Serdang. "Dulu ada banyak kerbau di sini, ada ratusan, tapi sudah dijual pemiliknya." kata pak Sumardi, Kades Serdang. Lebih mudah menemui sapi-sapi dibanding kerbau rawa di Serdang.
Saya menunaikan shalat magrib di masid Nurul Iman Serdang, dan memasuki masjid pada saat iqomah. Hanya terisi 1 shaf dengan beberapa orang jamaah. Ternyata ada 1 kolom shaf yang dikosongkan dan saya diminta mengisinya. Karena datang terlambat saya memilih paling pinggir dan mempersilakan para orang tua yang telah datang lebih dulu untuk mengisi bagian kosong itu.
Sepulang dari masjid saya ditegur ibunda pak Sumardi di rumah karena tak mengenakan kopiah saat sholat magrib tadi. Saya jadi ingat Nene Boi di Mangoli, saya pernah ditegurnya sebab shalat dan datang ke pemakaman tanpa mengenakan kopiah.
Ternyata di Tebing saya mengalami hal nyaris serupa. Saat jumatan di masid Al-Muhajirin, pak Kholik memberikan sajadah dan kopiah ke saya lantas memberi tahu agar saya duduk di shaf paling depan dekat dengan imam. Sebegitu ramahkah penduduk di sini? Saya hanya tamu tak penting yang baru datang beberapa menit sebelum bedug jum'at ditabuh.
Jumat siang itu saya menumpang ketek rombongan guru SDN 1 Serdang untuk menuju Tebing. Para guru di SDN 1 Serdang semuanya berasal dari desa lain, jadi tiap harinya guru-guru itu melaju ke Serdang dengan ketek. Ketek dengan dudukan papan patah yang sudah bermuatan 8 orang itu bertambah muatan 1 orang lagi. Alhasil ketek melaju begitu pelan menyusuri lebak.
Pada beberapa titik di lebak antara Serdang dan Tebing bertebaran teratai-teratai putih. Pun di lebak di belakang rumah-rumah di Tebing. Saat tiba di rumah Pak Kholidi, kadus Tebing, saya langsung melongok ke belakang rumah.
"Aer galee.." sahut tetangga pak Kholidi.
Iya, dusun tebing ini memang penuh air dan dibangun di atas rawa. Ada pun sedikit bagian yang ditimbun tanah dan sudah disemen adalah jalan setapak yang membentang sepanjang 100 meter hingga jeramba beton. Sisanya rumah-rumah dihubungkan dengan titian kayu yang tiap kali air pasang atau hujan datang akan terendam.
Tebing secara geografis termasuk dalam wilayah desa Pampangan, namun secara administratif penduduknya tercatat sebagai penduduk Serdang. Kampung di atas rawa ini bermula dari tahun 1953, saat 17 warga Serdang berkongsi untuk membangun sebuah pabrik kayu di tepian sungai Komering. Pabrik kayu yang mereka bangun itu sukses, di tahun 60an masing-masing dari ke-17 orang itu membuka pabrik sendiri. Pabrik kayu di tepi sungai Komering bertambah, rumah-rumah bertambah, penduduk pun bertambah. Tebing kian ramai. Lebu (ampas kayu) dari pabrik kayu dikumpulkan di rawa, dan ditimbun hingga mencapai ketinggian rumah panggung. Dari jauh, timbunan lebu itu tampak seperti tebing tinggi.
Ke-17 "penemu" Tebing itu kini telah tiada, namun kisah mereka masih bisa disampaikan dengan baik oleh Pak H. Safei, tokoh masyarakat berusia 78 tahun yang mendiami Tebing sejak 60an. "Saya negak rumah ni tahun 73. Naik haji tahun 79. Tahun 80-an pabrik-pabrik kayu ini ditutup tentara." Karena dianggap ilegal, pabrik-pabrik kayu yang menghidupkan Tebing itu ditutup. Sebagian penduduk mengubah haluan menjadi petani, sebagian kembali ke Serdang untuk memahat karet.
Sisa-sisa lebu kini masih bisa ditemui di Tebing namun hanya tersisa 1 titik. Lebu dengan tinggi sekitar 1,5 meter dari permukaan rawa dan berdiameter sekitar 50 meter yang kini menjadi tempat bermain untuk budak-budak kecik.
Dari atas lebu itu kita bisa memandang jauh ke Pampangan, juga ke lebak-lebak terjauh. Untuk pertama kalinya, selama 40 hari di selatan Sumatera akhirnya saya menyaksikan senja yang begitu cantik. Begitu syahdu dari atas lebu itu. Rona jingga menyelimuti dari ujung barat lebak hingga ke kolong-kolong rumah panggung di tepian sungai Komering.
Di Tebing pula, untuk kali pertama selama 40 hari di selatan Sumatera akhirnya saya mandi di lebak!
Selain keramahannya, kehidupan masyarakatnya yang dekat dan bergantung pada sungai, hal lain yang membuat Tebing sama dengan desa-desa lain di Pampangan, SP Padang dan Tulung Selapan adalah betapa begitu familiarnya masyarakat dengan togel. Bahkan anak-anak kecik pun paham. Pemilik rumah yang saya tinggali di Tebing adalah agen penjual nomor togel. Dari pagi hingga pukul 11 malam, tamu-tamu datang silih berganti memasang nomor. Banyak bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi tak jarang anak-anak kecik pun tiba-tiba muncul untuk menyampaikan pesan nomor dan uang yang dititipkan orang tuanya.
"Saya kerja begini hanya untuk uang rokok, pulsa dan uang bensin saja," kata agen itu, "Kalau untuk makan sehari-hari ya dari mahat itulah." jelasnya yang tiap kali ada nomor yang tembus dia bisa mendapat persenan dari "bos"-nya 15 % juga 10 % dari pemasang nomor.
Di sini, hampir setiap orang percaya terhadap kekuatan angka yang muncul dalam mimpi.
****
Jum'at (10/1) siang saat hendak menuju masjid untuk Jumatan, saya dipanggil oleh seorang anak yang tengah duduk-duduk di depan warung, "Mang!"
Ah, ternyata anak itu 1 diantara belasan anak SD yang saya foto di dermaga.
✕
06 Januari 2014
Tak Sampai Melayang di Pulau Layang
"OK, DJ remix kita mulai yaaa.." teriak MC pesta mengawali sesi dangdut house.
Saya jadi teringat tagline bombastis dari running text di desk DJ Akep Mania.






