07 Desember 2008

Gampingan 29 November

Kawanan kaum muda dengan botol ‘Amer’ ditangan mendominasi malam itu. Tak ada tata rambut poni lempar atau dandanan ala raver, kebanyakan yang datang tampil dengan dandanan “Nyewon” (istilah pakde untuk dandanan ala mahasiswa ISI era terkini alias seniman modis) & “Ngintani” (nyewon versi feminim a.k.a mirip gintani). Kami gemar memperhatikan gaya berpakaian orang-orang, sedang kami hanya mengenakan kaos oblong, celana pendek & sandal jepit. Kos saya berada tak jauh dari Jogja National Museum, jadi kami memilih untuk tidak berganti pakaian setelah ngeteh di angkringan, lagian ini hanya pembukaan pameran bukan resepsi.

Hingga acara berakhir nyaris tak ada yang normal malam itu, semua dikendalikan keliaran. Sebelum sesi musik elektronik, acara pembukaan pameran itu sudah menunjukan tanda-tanda menuju liar. Band noise (nanggung) –yang saya tidak tahu namanya- mungkin tak pernah menyangka inilah penampilan paling berpengaruh mereka, tak hanya musik mereka yang noise, penonton pun tiba-tiba mendadak noise. Seorang penonton terlihat telah mengangkat dan memukul-mukul snare drum saat band ini masih memainkan setnya. Dan lainnya menginjak neck gitar milik gitaris band itu. Zoo yang dijadwalkan tampil setelahnya akhirnya batal tampil. Gangguan.

Saat drum n basses mulai didentumkan keliaran makin menjadi, seorang seniman yang lebih terlihat seperti gelandangan mulai menarik cewek bule yang akhirnya enggan berpasangan dengannya, anehnya orang itu dalam kondisi mabuk tapi dia bisa memilih bule yang bening dengan baik. Dan layaknya selebrasi atlit sepeda yang baru saja memenangkan sebuah etape perlombaan, penonton lainnya sudah menghadirkan hujan buatan dengan menyiramkan bir pada barisan depan penonton. Perangkat tata suara pun bertambah fungsi menjadi podium juara baginya. Semua orang terlihat menikmati malam itu, hanya pakde yang terlihat sedikit bingung karena masih dalam kondisi sadar.

Saya ada dalam acara pembukaan pameran malam ini, bukan party di sebuah klub. Beberapa tahun belakangan, adalah hal biasa menemukan ajang “ajeb-ajeb” pada pembukaan pameran. Mendadak disko. Hahaha… entah siapa yang memulai memindahkan suasana klub ke dalam galeri seni. Tak perlu tata suara puluhan ribu watt, hanya diperlukan laptop, pemutar cd & mixer portable, serta sound out minimalis maka terberkatilah menjadi sebuah pesta. Sedikit dari para perupa itu juga sudah berprofesi sebagai DJ amatir yang tampil hanya dengan memutar lagu-lagu idola mereka.

Harusnya saya akan merekam pertunjukan terakhir malam itu, hanya saja baterai kamera digital saya habis terlebih dahulu. Saya menyesal merekam sesi penari sexy diawal tadi. :D

25 Agustus 2008

Seringai Bangsat!!

8th Slackers Anniversary, Terrace Cafe, 24 agustus 2008 

Para begundal hardcore Jogja berkumpul dan sukses membakar Jogja bersama band rock oktan tinggi asal Jakarta dalam perayaan hari jadi distro terkemuka di jogja. 

Garda depan hardcore jogja; Mortal Combat, Nothing, dan Something Wrong, delegasi dari Jakarta yang berisikan veteran hardcore dan metalhead yang menolak tua; Seringai, aksi rock n roll; Coffin Cadilac, dan juga Dub Youth. Dengan line-up seperti ini jogja bukan hanya akan dibakar, tapi dihancurkan rata dengan aspal. Jogja yang selalu dingin di malam hari sepertinya sudah memberi sinyal akan panasnya malam ini. Venue yang dipilih pun cukup pas, yakni di Terrace Cafe, yang berada di utara. Jogja adalah kota wisata, dan disini arah mata angin menunjukan ragam wisata yang akan dituju. Seorang kawan pernah bercanda ”Kalo bagian selatan jogja tuh kita bisa wisata budaya, tapi kalo daerah utara itu wisata birahi..”. Haha.. yap. Saya merasa seperti bukan di Jogja tiap kali berada di utara. 

Kembali ke gigs. Saya selalu telat datang. Saya dan bugisan wild crew baru tiba sekitar pukul 10, kami melewatkan Mortal Combat dan Nothing. Band yang saya sebut terakhir, mungkin akan sedikit mengingatkan anda pada Walls Of Jericho, kalau tidak mau menyebut Step Forward. Beruntung saya masih sempat menyaksikan aksi oldskull paling tua di Jogja, Something Wrong. Pemandangan yang hanya bisa saya liat di DVD Agnostic Front live at CBGB tersajikan disini. Mereka masih tetap cadas. Tak heran, sehabis mereka main pun, sebagian besar penonton masih berteriak mengharapkan Encore. Venue sepertinya sudah panas dari tadi. Saya bersyukur karena tidak ada band metalcore yang main, kekhawatiran akan munculnya banyak poni lempar ber-skinny jeans pupus sudah (Oops...!). Wajah-wajah lama terlihat, dan semuanya menyatu dalam mosh pit. Disini, gigs sudah harga mati akan menjadi ajang reuni. Band selanjutnya Coffin Cadilac, sebenarnya mereka terhitung band lama, hanya saja susah sekali menemukan mereka di atas panggung. Sang vokalis terlalu asik dengan side projectnya The Southern Beach Terror. Mereka bermain all out dan cukup baik namun penonton di baris depan hanya memilih duduk manis, mungkin beristirahat karena baru dihajar Something Wrong.

Disela-sela acara MC sempat membagi-bagikan bir untuk penonton. Dua orang penonton wanita menghabiskan se-pitcher bir lewat beer bong. Kalau bukan karena cukup bening, saya pasti malas menyaksikan :D. Arian terlihat merekam momen ini. 

Sesaat setelahnya Seringai akhirnya didaulat ke panggung, dancefloor yang tadinya sempat lengang langsung penuh. Saya tidak ingat urutan lagu yang dimainkan, hanya dalam hitungan detik setalah Seringai memulai setnya, saya sudah hanyut dalam lautan mosh. Seorang teman sempat bingung melihat saya. Yah....saya hanya akan terlihat di dancefloor saat ada band Ska atau Reggae yang pentas. Seringai berhasil memaksa saya melakukan ini. Yang saya ingat, di lagu-lagu awal mereka memainkan Berhenti di 15, Citra Natural, Akselerasi Maksimum, dan Membakar Jakarta. Sangat menyenangkan menyaksikan band kesukaan memainkan set panjang. Venue penuh sesak. Terrace cukup kecil jadi tiket yang dijual hanya dibatasi 300 lembar, banyak penonton yang akhirnya menunggu keajaiban diluar dengan wajah memelas :-). Anehnya, teman saya Pandu, yang juga kehabisan tiket tiba-tiba sudah terlihat diatas panggung, merebut mik dari arian dan berteriak ”i wanna drink” saat Seringai memainkan Alkohol. Baru saya ketahui belakangan ternyata pandu masuk dengan cara yang sungguh najis, mengintit, dengan rombongan Dub Youth. Di awal pentas -mungkin karena melihat banyak sekali wajah lama yang hadir- arian sempat berujar mendedikasikan penampilan mereka kali ini untuk ”oldskull”. Saat memainkan Anti Social para ”orang tua” itu ikut sing along. Gufy dari Kongsi Jahat Syndicate yang (kembali) mengorganize acara ini juga hanyut dalam mosh. Seringai kemudian menutup penampilan mereka dengan Lencana, Neraka Jahanam yang didedikasikan untuk Ahmad Albar dan Individu Merdeka yang membuat seisi venue tak henti-hentinya berteriak.

Harusnya saya ingin merayakan kebisingan dengan bunga malam ini, tapi ikut membantu menghadirkan teman didepan idolanya juga menyenangkan. Teman saya, Pakde we, termasuk orang lama di hardcore, yang sudah menyukai Puppen sejak bangku smp. Dia ingin sekali menyaksikan Arian dengan Seringai. Dan malam ini terpenuhi. Saat perjalanan pulang, pakde sempat bilang ”nyaris lengkap cal, hanya kurang satu... Homicide” hahaha.. ya. Kami mengidolakan Homicide juga. Tapi sepertinya akan menjadi mustahil. 

Pertunjukan Seringai baru saja usai namun saya baru sadar kalau saya masih saja merinding. Bangsat!

11 Desember 2007

Strategi Baru Label Rekaman "Membunuh" Artis-Artisnya

Oleh Wendi Putranto


Teman-teman, kita sudah sampai di era baru industri musik.


Era dimana label rekaman melancarkan strategi terkejam dalam sejarah industri musik di tanahair: Menguasai artis dengan jalan mengelola karir mereka. Istilah populernya mereka melakukan ekspansi bisnis dengan cara membuka divisi Manajemen Artis di label rekaman.


Gue adalah salah seorang yang nggak setuju dengan berdirinya manajemen artis dalam sebuah label rekaman. Gue punya argumentasi yang kuat untuk ini. Label rekaman itu INKOMPETEN untuk urusan manajemen artis dan nantinya gue yakin malah bakal merusak tatanan industri musik yang selama ini otonom dari tiga belah pihak terkait (artis, manajemen, label).


Bisnis utama label rekaman adalah jualan kaset, CD, RBT, dsb. Semua yang berhubungan dengan rekaman musik. Dari nama saja sudah jelas: Perusahaan Rekaman! Akhirnya ketika mereka membuka divisi baru (Artis Manajemen) gampang ditebak kalo kerepotan dan berbagai kebodohan dalam urusan manajerial artis bakal terjadi di sana. Mulai dari SDM yang mereka miliki butut hingga praktek-praktek jualan band yang obscure. Karena mereka masih "belajar" maka jangan cari profesionalisme manajemen artis di dalam major label :)

Conflict of interest tingkat tinggi juga bakal terjadi di dalam band ketika manajernya bingung harus membela kepentingan yang mana nantinya (artis atau label?). Secara manajer lama kemungkinan besar bakal ”digaji” oleh label dan nanti hanya akan menjadi sub-ordinat dari manajemen baru.


Gara-gara pembajakan musik yang makin gokil (bahkan konon direstui negara) dan menurun drastisnya penjualan album fisikal, akhirnya mereka mengambil jalan pintas mendirikan manajemen artis yang ujungnya lagi-lagi merugikan artis nantinya. Label bukannya bersatu memerangi pembajakan namun malah berkomplot untuk mengeksploitasi artis habis-habisan agar mereka bisa terhindar dari kebangkrutan.


Biarkan artis yang bangkrut, tapi jangan labelnya! Kira-kira kasarnya begitu. Sekali lagi artis adalah obyek penderita nomor satu nantinya.


Setelah kecilnya nilai royalti mekanikal di Indonesia, statistik penjualan album yang manipulatif, dilarangnya artis bergabung dengan KCI oleh ASIRI (atau diminta keluar dari KCI jika telah bergabung) maka penindasan terhadap artis akan datang lebih kejam lagi nantinya. Detailnya kira-kira seperti di bawah ini.


Ini prediksi yang bakal terjadi di masa depan dengan ”artis-artis baru” yang kontrak dengan major label yang memiliki divisi manajemen artis:
- Masa depan karir band baru akan tergantung dari label rekaman, bukan berada di tangan manajemen lama atau artisnya sendiri.
- Tumpulnya peran dan kontrol manajemen artis yang lama dalam membela kepentingan-kepentingan artis. Manajemen lama akan menjadi sub-ordinat dari label dan kemudian hanya berfungsi sebagai baby-sitting artis. Semua fungsi kontrol dan decision making artis akan terpusat kepada label sebagai investor. Manajer lama tidak punya hak karena mereka tidak invest apapun. Kemungkinan besar mereka akan disingkirkan dengan jalan "pembusukan". Mempengaruhi artis dengan iming-iming kesuksesan di industri musik.
- Kontrol yang sangat ketat dalam proses kreatif dan menciptakan musik berakibat hilangnya idealisme artistik & estetis karena artis hanya akan diperbolehkan menciptakan musik-musik yang tengah disukai oleh pasar yang tidak cerdas. Sejuta band mirip Kangen Band diprediksi akan membajir di industri musik kita :)
- Berkurang secara signifikannya pemasukan bagi artis karena mereka harus share profit selain dari royalti mechanical, live show, merchandise, touring, advertising, publishing dan sebagainya. Hal yang belum pernah terjadi sebelumya. It's a very big, big, big LOSS, ladies & gentleman!
- Buruknya lagi, kalau artis baru nanti terlalu blo'on, maka tingkat eksploitasi akan diperkejam lagi hingga nama band dipatenkan oleh label, internal band akan dikontrol langsung pihak label, penggelapan royalty, sales report yang culas hingga berlakunya sistem bodoh dengan label menggaji para artis. Jika selama ini kita memandang artis sebagai seniman dengan talenta yang tidak ternilai maka selanjutnya kita akan dipaksa memposisikan artis tak lebih dari "kuli musikal."


Strategi ”mega-eksploitatif” ini memang hanya diberlakukan bagi band-band baru yang ditawarkan kontrak rekaman oleh major record company. Contoh paling konkret misalnya terjadi pada Nidji, Letto (Musica), The Changcuters, St. Loco, Vagetoz (SonyBMG Indonesia), Kangen Band (Warner), Tahta (EMI), dsb. Semuanya memang memiliki deal-deal yang berbeda satu sama lain. Maksudnya tingkat eksploitasinya berbeda-beda. Ada yang parah dan ada yang parah banget. Gue sempat mendengar ada satu band yang dipotong komisinya sebesar 45% (gross) setelah join dengan manajemen artis major label.


Band baru yang hadir dengan strategi yang brilyan dan sangat berhasil di awal karirnya adalah Samsons yang melakukan master licensing deal dengan Universal Music Indonesia. Mereka membiayai sendiri produksi rekaman dan kemudian menjalin kerjasama promosi & distribusi dengan major label selanjutnya. Ke depannya deal seperti ini nantinya akan menjadi ”favorit” para manajer artis (tentu bila mampu).


Pastinya, label rekaman tidak akan menawarkan strategi keji ini kepada band-band lawas/senior karena bargaining position mereka sudah sangat kuat. Selain brand mereka sudah dikenal luas, pengalaman dan pengetahuan bisnis musik yang sangat memadai, fanbase yang kuat juga sangat berpengaruh terhadap positioning mereka di industri musik. Label sendiri kadangkala melihat artis-artis lawas sebagai ”uzur,” ”grace period” atau sudah rendah ”selling point”nya.


Itulah kenapa akhirnya label rekaman besar hanya akan memburu band-band/artis baru yang masih hijau, yang minim pengetahuan bisnis musiknya dan belum paham peta/konstalasi industri musik lokal. Selain bakal gampang dibodohi dengan kontrak yang sangat eksploitatif mereka juga akan dipengaruhi iming-iming "fame & fortune" di industri musik. Padahal belum tentu bakal "booming" juga :)


Jika Anda saat ini berada di sebuah band baru dan ditawarkan kontrak rekaman dari major label maka jangan terburu-buru tergiur dulu! Imej bergengsi major label tidak akan banyak memberi keuntungan. Yang terpenting adalah deal-nya, bukan masalah major atau indie label-nya. Pelajari dulu dengan seksama kontraknya, undang pengacara kenalan Anda untuk membedahnya, konsultasi dengan band-band lain yang sudah berpengalaman.


Sudah banyak kasus terjadi sebelumnya. Band-band baru menandatangani kontrak rekaman jangka panjang dengan major label dan akhirnya menyesal. Ketika bandnya booming dan banyak menerima job manggung beberapa ada yang melakukan ”resistensi” konyol dengan tidak menyetorkan komisi kepada label sesuai perjanjian. Menjadi konyol karena setelah kontrak rekaman itu ditandatangani maka konsekuensi-konsekuensi di belakangnya seharusnya sudah kita tahu sejak awal. Oleh karena itu jangan ikut mengantri di barisan kebodohan. Empowered yourself!


Cara kerja label juga akan lebih mirip jarum suntik nantinya. Sekali pakai langsung buang, disposable. Artis-artis baru tidak akan ada yang didevelop untuk panjang umur karirnya, mereka hanya akan disupport demi "popularitas maksimal dua atau tiga album saja!" Setelah booming besar dan untung besar, siap-siap menuju ladang pembantaian. Setelah dibantai maka dicari lagi talenta baru. Kalau kita jeli fenomena seperti ini sebenarnya telah terjadi sekarang ini di Indonesia.


Label besar sejatinya nanti hanya akan menjadi pusat manufaktur band! :) Kita tidak akan menemukan lagi band-band awet populer seperti Slank, Gigi, Netral, Dewa19, Naif di masa depan nantinya. Semuanya hanya akan "easy come, easy go!"


Tapi kalo ada yang bilang label membuka manajemen artis bakal membunuh pula profesi manajer artis individual/otonom, gue sama sekali nggak setuju. Gue justru nggak melihat kalau manajer-manajer artis yang independen itu bakal tergusur atau kehilangan pekerjaan. Ini analisa yang terlalu sembrono. It's not the end of the world as we know it :) Negara ini punya lebih dari 200 juta penduduk. Yang pengen jadi artis, bikin band dan gilpop (gila popularitas) setiap harinya pasti bertambah ribuan. Justru segudang talenta ini menjadi market yang sangat potensial bagi manajer-manajer artis untuk dikelola.


Manajemen artis yang individual atau berbentuk firma masih akan sangat dibutuhkan dan berperan penting di sini nantinya. Perkembangan teknologi yang gokil belakangan masih menjanjikan masa depan yang cerah buat band-band yang tidak dikontrak major label lokal/internasional a.k.a indie. Hadirnya MySpace, YouTube, Multiply, Friendster, Ning dan perangkat musik digital lainnya sangat memungkinkan untuk mencetak artis besar via jalur alternatif. The Upstairs sendiri udah membuktikan hal ini sebelumnya.


Apalagi tren terbaru di Amrik dan Inggris sekarang rata-rata artis bernama besar malas memperpanjang kontrak rekaman mereka dan memilih hengkang dari major label. Prince, Madonna, Radiohead, NIN adalah para pelopor ”gerakan kembali ke indie” ini. Mereka justru mempercayakan manajemen artis mereka yang independen untuk berfungsi pula sebagai "label rekaman". Cepat atau lambat gue pikir band-band besar di Indonesia akan mengambil langkah yang sama nantinya. Slank, Naif dan Netral malah sudah membuktikannya..... dan mereka cukup berhasil! Salute!


Masih adakah jalan lain? Ada banget! Di dalam negeri sendiri sudah ada yang mempelopori ”penggratisan musik.” Album rekaman kini telah berubah fungsi menjadi sebuah ”marketing tool” untuk menjaring job manggung. Mungkin inilah masa dimana musisi tidak lagi memikirkan royalti rekaman! Bisa jadi kalau teknologi kloning nanti sudah semakin sempurna maka ini berarti ancaman besar! :)


Koil menjadi pionir dengan menjalin kerjasama dengan majalah musik untuk mendistribusikan album terbarunya (Blacklight Shines On) secara gratis. Selain itu mereka juga memberi akses download album gratis via website/mailing list musik. Ide Koil ini memang tergolong baru walau sebenarnya tidak original juga. Prince bulan Juni lalu lebih dulu mengedarkan 3 juta keping album terbarunya secara gratis via Tabloid Sun di Inggris.


Memang perlu dipelajari lebih lanjut lagi apakah strategi ”penggratisan musik” ini nantinya bakal merugikan atau malah menguntungkan. Yang pasti band-band baru tidak akan memiliki ”keistimewaan” seperti Koil jika mau mengambil strategi serupa.

Yang menarik lagi, sempat ada pertanyaan di bawah ini yang datang ke saya ketika jadi pembicara di sebuah seminar musik di kampus UI beberapa waktu lalu:


Bagaimana dengan marak terjadinya kasus manager-manager artis individual/otonom yang tidak profesional atau bermasalah? Katakan saja menipu artisnya, melakukan penggelapan keuangan, dsb.


Nah, untuk point di atas sebenernya gue jamin nggak akan terjadi lagi kalau di dalam manajemen artis kita sudah DITERTIBKAN secara organisasi dan administrasinya. Mari kita lihat apakah kita sudah memiliki kontrak tertulis antara manajemen dengan artis yang mengatur kerjasama profesional ini? Apakah peran, hak & kewajiban masing-masing pihak sudah di jabarkan secara rinci? Pemisahan fungsi manajemen sudah diberlakukan? Apakah antar personel band kita sudah memiliki kontrak internal pula? Kalo semua konsolidasi internal ini beres gue jamin masalah-masalah di atas nggak bakal terulang lagi di masa depan.


Oke, sementara begitu aja pandangan gue tentang isyu ini. Memang tulisan ini nggak akan mengubah strategi major label untuk tidak membuka divisi manajemen artis di dalam perusahaan mereka, toh semuanya jadi keputusan bisnis mereka juga. It’s their damn business afterall :) Lagipula masih ada juga major label yang tidak memberlakukan strategi dagang ini (paling tidak sementara ini), misalnya seperti Aquarius Musikindo, Universal Music Indonesia.


Yah, minimal kita bisa mencegah regenerasi kebodohan dan berlanjutnya proses pembodohan seperti ini sekarang juga.


Gue sangat berterimakasih kalo ada teman-teman yang mau memforward atau menyebarluaskan tulisan ini agar dibaca lebih banyak artis-artis baru yang berniat mempertaruhkan masa depan dan karir mereka sebagai musisi. Jangan biarkan mereka dirampok!


Hope we could make real changes together.
For better, not worst....
Vive le rawk!


tulisan ini diambil disini

17 September 2007

Merayakan Romantisme Kebisingan

Merayakan “Romantisme” Kebisingan, Lintas Gigs, dan Reuni

Kinoki-Purnabudaya UGM
080907

Semua mata kemudian tertuju ke tengah-tengah kafe, seperangkat penghasil bunyi-bunyian “kotor” telah tersusun rapi dan duduk manis sambil tersenyum menunggu dihantam. Kinoki, malam itu disulap menjadi sebuah pesta kebun yang penuh bising. Saya juga bunga serta semua orang yang ada di Kinoki berdiri mengitari 5 orang -bernama tengah noise- dan memasrahkan jiwa saya untuk diracuni malam ini. Sumber kebisingan berada ditengah-tengah sana. Tapi ada yang lain dari mereka malam ini, Jimi -yang biasanya menyumbangkan suara-suara Psychedelic dengan gitarnya- malam itu memainkan keyboards. Dan (nantinya) hingga sejam setelahnya, mereka terdengar seperti The Doors yang memainkan lagu-lagu dari Sonic Youth juga The Stooges.

Dulu saya pernah menyimpulkan, kalo Seek Six Sick hanyalah susunan partikel-partikel kecil puisi, dan sisanya dipenuhi kebisingan, namun malam ini mereka melengkapinya dengan satu formula yang beda, Romantic, yap.. Mereka sangat romantis malam ini. Sangat-sangat manis. Jauh lebih manis dari Carpenters sekalipun. Hanya untuk malam ini. Bukan karena Bofag menyanyikan Noise Rock Song, kemudian pesta penuh bising ini digelar di sebuah kafe dengan taman yang indah. Saya sedang berbunga-bunga dan datang bersama Bunga malam ini. Terberkatilah semua kebisingan menjadi romantis. Kebisingan yang romantis.

Apakah ini deja vu atau bukan, Setiap kali melihat aksi-aksi Bofag, saya selalu merasa diculik Ian Curtis. Menari-nari meliukan tubuhnya, berputar, kemudian menjatuhkan tubuhnya, ekspresif, dingin tak jelas. Dia terlihat seperti orang sakit. Bofag memang pintar berakting. Aksi-aksi mereka memang sayang kalo dilewatkan begitu saja.

Saya tahu Bofag-lah orang yang paling berani malam ini. Hingga dia tak perlu mengumbar-ngumbar sumpah tidak penting seperti I’m anti macho Rockstar, atau I Hate Adidas. Saya hanya ingin mendengarkan Rock N Roll Suicide dan Merayakan Kebisingan. Namun tak kunjung dibawakan. Ah.. tak apalah Supermodel Kills Supermarket Deals dan I Wanna Be Your Dog milik The Stooges sudah lebih dari cukup untuk saya.

Banyak orang-orang hebat terlihat disini (Setidaknya bagi saya mereka hebat). Barisan pasukan Armada Racun, Venzha, Belajar Membunuh, juga the one n only Wok The Rock, Punker gaek ini memang tak ada matinya.

Saya meningggalkan kinoki pukul 11, dan sengaja melewatkan Midijunkie mendengarkan suara-suara sintetis dari perangkat digitalnya. Saya kurang tertarik. Venzha tetaplah yang terbaik untuk saya.

Petualangan berlanjut ke Purnabudaya, ada Death Vomit dan Raja Singa disana, tapi saya tak berniat sama sekali menyaksikan mereka. Misi saya kali ini, hanyalah menemukan Pakde We. Dan kemudian mempermalukan Pakde Igit didepan temen-temennya. Oh… tak disangka, baru saja masuk ke venue, saya sudah dikagetkan dengan kehadiran Dito, ya..Dito. gitaris band Thrash Metal, Unveils. Sejak mengenal Dito, kamar kos saya langsung berubah jadi perpustakan mini. Hahaha.. (balikin buku-bukukuuuu…). Dito yang malam itu datang bersama istrinya sangat lain dari biasanya. Rambutnya di cat warna-warni, begitu juga dina, biar terlihat serasi mungkin. Setelah menikah nampaknya banyak perubahan yang terjadi pada dito. Hehehe…Tetap langgeng ya pakde!!

Maksud hati pingin ngerjain Pakde Igit malah berubah menjadi aksi seru-seruan dadakan. Di gig ini, beberapa teman lama juga hadir. Selain pakde-pakde “Bugisan Wild Crew”, ada Jack, drumer band lama saya, juga Otep. Ah.. gigs memang ajang reuni bagi saya juga teman-teman saya. Kami semua dipertemukan gigs, dan disatukan kembali lewat gigs. Kembali pada fitrahnya. Dasar banci gigs.

Haha.. Harusnya tulisan ini sudah saya post seminggu yang lalu, hanya saja otak saya makin lama makin lemah saja. Kebanyakan mbojo efeknya kurang baik untuk saya. hehehe… yowis, slamat menunaikan ibadah puasa! Tetap Liar!!!


merayakan17september07
01.25pm
inspiredbysigitsrums