18 April 2009

Slank, Iklan dan Lapindo

baliho Hp Esia edisi Slank di salah satu sudut kota Jogja.

Kelima Pahlawan Rock N Roll itu muncul dengan dandanan ala Rockstar dalam iklan dan dengan mantap berkata “Beli Hp Esia SLANK, HPnya Slankers sejati”. Menyedihkan.

Bagi saya bila seorang musisi atau sebuah band sudah menjadi bintang iklan -yang tidak sesuai dengan imej band itu- atau yang paling parah berperan dalam sebuah sinetron atau film, itu menandakan sang musisi/band tersebut sudah tidak produktif atau malah frustasi dalam bermusik. Karena bagi saya, jobdesc seorang musisi atau sebuah band itu hanya menciptakan, memproduksi atau memainkan lagu/musik. Kalaupun ada yang lain yang pasti tidak bergeser jauh dari musik. Tentu saja asumsi sempit saya ini bisa saja salah, dalam konteks iklan misalnya, para pengiklan biasanya memanfaatkan popularitas public figure untuk memperluas pasar/mendongkrak penjualan produk mereka. Dan apabila dikaitkan dengan Slank, asumsi saya akan menjadi salah besar. Dengan 25 tahun eksistensi mereka, Slank sudah melahirkan belasan album. 2 album terakhir malahan dirilis juga di Jepang dan US. Wow!! Sebuah pencapaian yang luar biasa. Saya bangga mimpi band idola saya bisa terwujud.

Saya pertama kali menyaksikan Slank membintangi sebuah iklan, yakni pada iklan Kartu AS, kemudian Super Mie, Bintangin dan Minak Djinggo. Dalam sebuah wawancara dengan sebuah majalah musik ternama (Rolling Stone edisi Juni 2008). Ridho memberi penjelasan perihal persentuhan Slank dengan dunia iklan. “Kita mau beriklan ya antara lain untuk (rekaman) itu”. Ok, melacur untuk sebuah mimpi. Kompromi. Dibagian lain wawancara tersebut, Abdee menambahkan “Kami mau beriklan tapi tetap ada beberapa persyaratan. Pertama, nggak boleh terlalu komersil ke produk. Kedua, ada pesan dari Slank”. Untuk pembenaran dari Abdee, Super Mie dengan isu persatuan, dan Minak Djinggo dengan program budaya Indonesia-nya masih bisa dimaklumi. Tapi dengan kartu As, dan Bintangin, hey.. dimana pesan mendalam yang bisa disampaikan? Pada visual yang ditampilkan di iklan Bintangin, para pendekar Rock n Roll yang terlihat mempunyai bentuk tubuh yang kekar dan sehat itu kemudian berakting seperti orang yang masuk angin, tentu saja dengan acting yang kaku dan (maaf) sedikit menjijikan. Saya selalu mengganti saluran TV saat melihat iklan tersebut. Tanpa diperalat korporat-korporat –dengan tampil tidak seperti Slank- itu pun saya yakin Slank bisa menyampaikan pesan sosial yang lebih baik dalam lagu dan pentas-pentas mereka.

Kemudian pada malam akhir desember lalu (seingat saya tanggal 23), saya kemudian dikagetkan dengan kemunculan Slank dalam iklan terbaru mereka. Jujur, saya benar-benar kaget. Kaget karena ini iklan baru mereka dan tambah terkaget-kaget lagi karena ini adalah iklan Esia.

###

FYI, Esia adalah produk dari Bakrie Telecom. Bakrie Telecom adalah anak perusahaan dari Bakrie Group. Dan Bakrie Group adalah sebuah grup perusahaan yang bergerak di banyak bidang, salah satu anak perusahaannya yakni PT. Energi Mega Persada yang merupakan pemilik saham mayoritas Lapindo Brantas. Lapindo Brantas yang karena kelalaiannya menyebabkan Tragedi Lumpur Porong (Sidoarjo). Tentunya tragedi Lumpur Sidoarjo takkan pernah dilupakan. Tragedi Lumpur yang menyebabkan warga empat desa (Siring, Jatirejo, Renokenongo dan Kedungbendo) kehilangan tempat tinggal; melumpuhkan mata pencaharian mereka karena areal pertanian dan perkebunan rusak; lebih dari 15 pabrik yang tergenang lumpur menghentikan aktivitas produksi dan merumahkan lebih dari 1.873 orang; tidak berfungsinya sarana pendidikan; kerusakan lingkungan wilayah yang tergenangi; dan rusaknya sarana dan prasarana infrastruktur (jaringan listrik dan telepon). Tragedi tersebut juga sempat menyebabkan warga korban Lumpur kemudian menempati pengungsian dengan kondisi yang sangat tidak layak, mendapat ketidakpastian ganti rugi sebagai hak mereka, dan kemudian baru mendapatkan titik terang saat ribuan korban Lumpur ini terpaksa nekat mendatangi Istana awal desember 2008 lalu.

Tragedi Lumpur Lapindo tentunya tidak akan terlalu menjadi masalah dengan Slank –khususnya bagi saya- apabila Slank tidak melagukan “Lapindo”. Dalam peluncuran album “Slow but Sure” Slank juga melakukan aksi diam sebagai bentuk keprihatinan mereka saat lagu Lapindo diputarkan dengan latar belakang visual Bencana Lumpur Lapindo di Hard Rock CafĂ© 2007 silam.

Saya tidak tahu apakah Slank yang tahun lalu baru saja tur ke U.S tidak punya akses untuk mengetahui latar belakang perusahaan yang mengontrak mereka sebagai bintang iklan? hal yang mustahil di era internet sekarang ini. Atau mungkin Slank tahu dan menganggap hal tersebut tidak penting? Atau malah Slank tidak peduli sama sekali?

###

Saya menyaksikan perayaan ulang tahun Slank yang disiarkan Anteve 2 januari lalu, pada salah satu bumper di acara tersebut, terdapat tayangan dimana ada beberapa orang Slankers terlibat dalam sebuah pembicaraan. Intinya pada pembicaraan tersebut para Slankers tadi saling mengomentari atribut Slank yang mereka punya dan merasa ada yang kurang. Kemudian tayangan tadi terhenti dan menayangkan Slank yang telah berdiri di depan panggung untuk memperkenalkan HP Esia Slank. Slank menyediakan sesi khusus untuk “mengiklankan” HP Esia Slank ini.

Saya tidak peduli deal yang terjadi saat Slank dikontrak Esia maupun Produk lainnya. Semuanya tidak akan terlalu menjadi masalah. Tapi bila kemudian muncul tagline seperti “Beli Hp Esia SLANK, HPnya Slankers sejati”. Slank menjadi hal yang menyedihkan bagi saya.

Rasanya saya tidak mengenal lagi siapa idola saya ini.

ex a.k.a echal
Slankers

*Tulisan ini saya kirimkan ke Bimo Setiawan Almachzumi alias Bimbim sekitar pertengahan januari tahun ini. karena belum mendapat tanggapan apa-apa dari Bimbim, jadi saya kepikiran untuk memuatnya dalam blog saya. Yah.. siapa tau ada tanggapan dari teman-teman.

07 Desember 2008

Gampingan 29 November

Kawanan kaum muda dengan botol ‘Amer’ ditangan mendominasi malam itu. Tak ada tata rambut poni lempar atau dandanan ala raver, kebanyakan yang datang tampil dengan dandanan “Nyewon” (istilah pakde untuk dandanan ala mahasiswa ISI era terkini alias seniman modis) & “Ngintani” (nyewon versi feminim a.k.a mirip gintani). Kami gemar memperhatikan gaya berpakaian orang-orang, sedang kami hanya mengenakan kaos oblong, celana pendek & sandal jepit. Kos saya berada tak jauh dari Jogja National Museum, jadi kami memilih untuk tidak berganti pakaian setelah ngeteh di angkringan, lagian ini hanya pembukaan pameran bukan resepsi.

Hingga acara berakhir nyaris tak ada yang normal malam itu, semua dikendalikan keliaran. Sebelum sesi musik elektronik, acara pembukaan pameran itu sudah menunjukan tanda-tanda menuju liar. Band noise (nanggung) –yang saya tidak tahu namanya- mungkin tak pernah menyangka inilah penampilan paling berpengaruh mereka, tak hanya musik mereka yang noise, penonton pun tiba-tiba mendadak noise. Seorang penonton terlihat telah mengangkat dan memukul-mukul snare drum saat band ini masih memainkan setnya. Dan lainnya menginjak neck gitar milik gitaris band itu. Zoo yang dijadwalkan tampil setelahnya akhirnya batal tampil. Gangguan.

Saat drum n basses mulai didentumkan keliaran makin menjadi, seorang seniman yang lebih terlihat seperti gelandangan mulai menarik cewek bule yang akhirnya enggan berpasangan dengannya, anehnya orang itu dalam kondisi mabuk tapi dia bisa memilih bule yang bening dengan baik. Dan layaknya selebrasi atlit sepeda yang baru saja memenangkan sebuah etape perlombaan, penonton lainnya sudah menghadirkan hujan buatan dengan menyiramkan bir pada barisan depan penonton. Perangkat tata suara pun bertambah fungsi menjadi podium juara baginya. Semua orang terlihat menikmati malam itu, hanya pakde yang terlihat sedikit bingung karena masih dalam kondisi sadar.

Saya ada dalam acara pembukaan pameran malam ini, bukan party di sebuah klub. Beberapa tahun belakangan, adalah hal biasa menemukan ajang “ajeb-ajeb” pada pembukaan pameran. Mendadak disko. Hahaha… entah siapa yang memulai memindahkan suasana klub ke dalam galeri seni. Tak perlu tata suara puluhan ribu watt, hanya diperlukan laptop, pemutar cd & mixer portable, serta sound out minimalis maka terberkatilah menjadi sebuah pesta. Sedikit dari para perupa itu juga sudah berprofesi sebagai DJ amatir yang tampil hanya dengan memutar lagu-lagu idola mereka.

Harusnya saya akan merekam pertunjukan terakhir malam itu, hanya saja baterai kamera digital saya habis terlebih dahulu. Saya menyesal merekam sesi penari sexy diawal tadi. :D

25 Agustus 2008

Seringai Bangsat!!

8th Slackers Anniversary, Terrace Cafe, 24 agustus 2008 

Para begundal hardcore Jogja berkumpul dan sukses membakar Jogja bersama band rock oktan tinggi asal Jakarta dalam perayaan hari jadi distro terkemuka di jogja. 

Garda depan hardcore jogja; Mortal Combat, Nothing, dan Something Wrong, delegasi dari Jakarta yang berisikan veteran hardcore dan metalhead yang menolak tua; Seringai, aksi rock n roll; Coffin Cadilac, dan juga Dub Youth. Dengan line-up seperti ini jogja bukan hanya akan dibakar, tapi dihancurkan rata dengan aspal. Jogja yang selalu dingin di malam hari sepertinya sudah memberi sinyal akan panasnya malam ini. Venue yang dipilih pun cukup pas, yakni di Terrace Cafe, yang berada di utara. Jogja adalah kota wisata, dan disini arah mata angin menunjukan ragam wisata yang akan dituju. Seorang kawan pernah bercanda ”Kalo bagian selatan jogja tuh kita bisa wisata budaya, tapi kalo daerah utara itu wisata birahi..”. Haha.. yap. Saya merasa seperti bukan di Jogja tiap kali berada di utara. 

Kembali ke gigs. Saya selalu telat datang. Saya dan bugisan wild crew baru tiba sekitar pukul 10, kami melewatkan Mortal Combat dan Nothing. Band yang saya sebut terakhir, mungkin akan sedikit mengingatkan anda pada Walls Of Jericho, kalau tidak mau menyebut Step Forward. Beruntung saya masih sempat menyaksikan aksi oldskull paling tua di Jogja, Something Wrong. Pemandangan yang hanya bisa saya liat di DVD Agnostic Front live at CBGB tersajikan disini. Mereka masih tetap cadas. Tak heran, sehabis mereka main pun, sebagian besar penonton masih berteriak mengharapkan Encore. Venue sepertinya sudah panas dari tadi. Saya bersyukur karena tidak ada band metalcore yang main, kekhawatiran akan munculnya banyak poni lempar ber-skinny jeans pupus sudah (Oops...!). Wajah-wajah lama terlihat, dan semuanya menyatu dalam mosh pit. Disini, gigs sudah harga mati akan menjadi ajang reuni. Band selanjutnya Coffin Cadilac, sebenarnya mereka terhitung band lama, hanya saja susah sekali menemukan mereka di atas panggung. Sang vokalis terlalu asik dengan side projectnya The Southern Beach Terror. Mereka bermain all out dan cukup baik namun penonton di baris depan hanya memilih duduk manis, mungkin beristirahat karena baru dihajar Something Wrong.

Disela-sela acara MC sempat membagi-bagikan bir untuk penonton. Dua orang penonton wanita menghabiskan se-pitcher bir lewat beer bong. Kalau bukan karena cukup bening, saya pasti malas menyaksikan :D. Arian terlihat merekam momen ini. 

Sesaat setelahnya Seringai akhirnya didaulat ke panggung, dancefloor yang tadinya sempat lengang langsung penuh. Saya tidak ingat urutan lagu yang dimainkan, hanya dalam hitungan detik setalah Seringai memulai setnya, saya sudah hanyut dalam lautan mosh. Seorang teman sempat bingung melihat saya. Yah....saya hanya akan terlihat di dancefloor saat ada band Ska atau Reggae yang pentas. Seringai berhasil memaksa saya melakukan ini. Yang saya ingat, di lagu-lagu awal mereka memainkan Berhenti di 15, Citra Natural, Akselerasi Maksimum, dan Membakar Jakarta. Sangat menyenangkan menyaksikan band kesukaan memainkan set panjang. Venue penuh sesak. Terrace cukup kecil jadi tiket yang dijual hanya dibatasi 300 lembar, banyak penonton yang akhirnya menunggu keajaiban diluar dengan wajah memelas :-). Anehnya, teman saya Pandu, yang juga kehabisan tiket tiba-tiba sudah terlihat diatas panggung, merebut mik dari arian dan berteriak ”i wanna drink” saat Seringai memainkan Alkohol. Baru saya ketahui belakangan ternyata pandu masuk dengan cara yang sungguh najis, mengintit, dengan rombongan Dub Youth. Di awal pentas -mungkin karena melihat banyak sekali wajah lama yang hadir- arian sempat berujar mendedikasikan penampilan mereka kali ini untuk ”oldskull”. Saat memainkan Anti Social para ”orang tua” itu ikut sing along. Gufy dari Kongsi Jahat Syndicate yang (kembali) mengorganize acara ini juga hanyut dalam mosh. Seringai kemudian menutup penampilan mereka dengan Lencana, Neraka Jahanam yang didedikasikan untuk Ahmad Albar dan Individu Merdeka yang membuat seisi venue tak henti-hentinya berteriak.

Harusnya saya ingin merayakan kebisingan dengan bunga malam ini, tapi ikut membantu menghadirkan teman didepan idolanya juga menyenangkan. Teman saya, Pakde we, termasuk orang lama di hardcore, yang sudah menyukai Puppen sejak bangku smp. Dia ingin sekali menyaksikan Arian dengan Seringai. Dan malam ini terpenuhi. Saat perjalanan pulang, pakde sempat bilang ”nyaris lengkap cal, hanya kurang satu... Homicide” hahaha.. ya. Kami mengidolakan Homicide juga. Tapi sepertinya akan menjadi mustahil. 

Pertunjukan Seringai baru saja usai namun saya baru sadar kalau saya masih saja merinding. Bangsat!