05 Oktober 2016

Dialita - Menyanyikan Lagu-Lagu Bisu

“Sebagian lagu di album ini diciptakan sebelum ’65. Pasca ’65, lagu-lagu ini tak lagi terdengar. Kami  menyebutnya lagu-lagu bisu. Lagu-lagu yang dibungkam.” – Dialita, 1 oktober 2016

Pasca tragedi ’65, ibu Siti Jus Djubariah ditangkap dan ditahan di penjara perempuan Bukit Duri (1965-1971), lalu pada 1971 dikirim ke kamp Plantungan bersama puluhan tahanan lainnya dan sempat dipindahkan ke penjara di Bulu, Semarang, sebelum akhirnya bebas bersyarat pada 1978. Ibu Siti Jus Djubariah yang seorang guru, ditahan dengan ratusan perempuan beragam profesi lainnya tanpa pernah tahu apa kesalahannya. Mereka ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.

Ibu Jus menulis lagu “Ujian” di penjara Bukit Duri. Bermula dari kegiatan bermain kasti bersama yang dilakukan seminggu sekali –yang bahkan saat hujan pun tetap mereka lakukan- untuk menghibur dan menumbuhkan semangat para tahanan. Pada suatu waktu, ibu Jus mengumpulkan kawan-kawan untuk belajar bernyanyi bersama lagu “Ujian”, bati per bait, lagu yang menjadi penyemangat bagi para tahanan.

“Dari balik jeruji besi hatiku diuji… apa aku emas sejati atau imitasi… ”

1 Oktober 2016, 51 tahun setelah tragedi ’65, lagu itu dinyanyikan kembali dengan lirih oleh ibu Sri Nasti Rukmawati dan ibu-ibu Paduan Suara Dialita di depan lebih dari 200 penonton di Taman Beringin Soekarno, Universitas Sanata Dharma.

Ada sedikit kekhawatiran pertunjukan ini akan terganggu oleh kehadiran ormas-ormas intoleran. Setahun terakhir “kenyamanan” Jogja sebagai kota Seni dan Budaya –juga kota yang toleran— sedikit goyah akan perilaku ormas-ormas ini. Pada 2016, setidaknya 2 pameran seni (Lady Fast di Survive Garage dan Idola Remaja Nyeni di Galeri Independent Art Space) serta acara diskusi dan pemutaran film “Pulau Buru Tanah Air Beta” di Sekretariat AJI Yogyakarta dibubarkan. Belum terhitung aksi-aksi damai di ruang publik yang berakhir panas karena dihadang ormas.

Pemilihan Taman Beringin Soekarno sebagai venue pertunjukan punya alasan yang kuat: berada di lingkungan kampus yang bebas dari intimidasi ormas, pihak dosen maupun rektorat Universitas Sanata Dharma mendukung rekonsiliasi tragedi 65 serta keberadaan pohon beringin yang ditanam sendiri oleh Alm. Soekarno pada 1960.

Hadir sebagai pengiring Dialita: Leilani Hermiasih (Frau), Nadya Octaria Hatta, Bagus Dwi Danto (Sisir Tanah), Prihatmoko Moki, Lintang Raditya dan Kroncongan Agawe Santosa. Panggung malam ini tentu saja milik ibu-ibu Paduan Suara Dialita: Utati Koesalah, Mudjiati, Elly Soetarjo, Sri Nasti Rukmawati, Tuti Martoyo, Hartinah, Murti, Uchikowati, Kurnia, Titi Ananta Toer, Yetti Hari Sapi’I, Irina Dayasih, Fidellia D., Hersiswanty, Mega TRG., Nancy Sunarno, Yohana, Resi Prasasti dan Ira Atmosukarto.

Pada awalnya biduanita Dialita adalah bagian dari “Keluarga Dalam Sejarah 65” (KDS 65), para keluarga penyintas tragedi peristiwa 1965, yang terdiri dari anak-anak yang ketika tragedi 1965 terjadi harus berpisah dengan orang tua dan keluarga. Bernyanyi, berkumpul, bercerita dan berbagi pengalaman dalam bertahan hidup adalah cara mereka, para keluarga penyintas untuk merawat harapan. Dari saling menguatkan, mereka memutuskan untuk membentuk sebuah paduan suara yang diberi nama Dialita, singkatan dari Di Atas Lima Puluh Tahun, usia kebanyakan anggotanya. Dalam perjalanannya, banyak kaum muda yang bergabung di kelompok paduan suara ini karena bersimpati pada perjuangan dan semangat Dialita dalam merajut hidup.

Dialita dibentuk secara kolektif pada 2011 diantaranya oleh ibu Uchikowati, ibu Mudjiati, ibu Astuti dan ibu Tunik. Dua anggota Paduan Suara Dialita adalah eks tahanan politik tragedi ’65 yakni ibu Utati Koesalah dan ibu Mudjiati.

Terbentuknya Dialita juga tak lepas dari upaya penyelamatan lagu-lagu yang lahir di kamp konsentrasi. Sejak 2005, ibu Utati Koesalah menulusuri kembali lagu-lagu ciptaan tahanan politik. Tujuannya untuk kembali merawat harapan, sekaligus sejarah tentang apa yang pernah terjadi di negara ini, agar tak terlupakan begitu saja. Perjalanan mengumpulkan lagu-lagu ini tak mudah. Karena di penjara, para tapol tak diperkenankan untuk menulis apapun. Sesederhananya bahagia, barangkali bahagianya ibu Utati Koesalah kala menemukan potongan kecil pensil dan kertas di yang bisa dipakainya untuk menulis lirik di dalam penjara.

***

Konser peluncuran album Dunia Milik Kita dibuka oleh Frau yang memainkan “Tarian Sari”, lalu bersama Nadya Octaria Hatta memainkan “Salahku, Sahabatku.” Frau kemudian mengundang ibu-ibu Dialita untuk tampil. Mengenakan seragam  kebaya biru-hijau dengan bawahan kain batik ibu-ibu Dialita menempati panggung yang lebih tinggi dari dirigen dan musisi pengiring –yang setara dengan penonton. Panggung malam itu tepat berada dibawah beringin yang ditanam Alm. Soekarno.

Pada lagu pertama, Dialita menyanyikan “Salam Harapan”, lagu yang diciptakan ibu Zubaedah Nungtjik AR. & Murtiningrum di penjara Bukit Duri. Kala itu, lagu “Salam Harapan” dan “Tetap Senyum Menjelang Fajar” biasa dinyanyikan oleh ibu-ibu di depan sel kawan yang sedang berulang tahun dengan membawa sekuntum bunga yang dipetik di halaman penjara, sebagai ucapan selamat.

Dialita kemudian melanjutkan dengan “Di Kaki-Kaki Tangkuban Perahu”. Pada lagu “Ujian” suasana menjadi hening saaat ibu Sri Nasti Rukmawati menyanyikan bagian pertama lagu itu dengan lirih bergetar, “dari balik jeruji besi hatiku diuji, apa aku emas sejati atau imitasi.. tiap kita menempa diri jadi kader teladan, yang tahan air tahan hujan, tahan musim dan badai.” Dingin. Namun nuansanya berubah penuh harapan saat dinyanyikan bersama, “…namun yakin dan pasti masa depan kan datang, kita pasti kembali.”

Pada “Lagu untuk Anakku”, Dialita hanya diiringi dentingan gitar dan pianika. Ada kesepian saat Frau memainkan solo pianika. Lagu ini diciptakan oleh Heryani Busani Wiwoho dan Mayor Djuwito yang gelisah melihat ratusan ribu anak Indonesia yang tiba-tiba harus kehilangan orang tuanya karena dibunuh, dibuang atau dipenjara. Ibu Heryani lantas menuliskan lirik yang menggugah dan penuh rasa cinta kasih, “…Cita dan cinta lahirkan segala nan indah, di hari mendatang sayangku, jadilah putra harapan bangsaku.”

Di jeda antar lagu ibu Uchi beberapa kali menyapa penonton, menyatakan betapa bahagianya ibu-ibu Dialita bisa tampil di Taman Beringin Soekarno dan melangsungkan pertunjukan dengan kerja sama lintas generasi.

Konser ini dibagi dalam 3 sesi. Di jeda antar sesi, musisi pengiring Dialita bergantian mengisi panggung. Kroncongan Agawe Santosa mendapatkan kesempatan lebih dulu, saat ibu-ibu Dialita istirahat. Sambil menikmati keroncong yang syahdu, penonton juga bisa mengambil kudapan yang disajikan Bakudapan – Food Study Group di sisi barat panggung. Panganan macam Lumpia Sintrong juga sayur genjer disediakan Bakudapan. Resep kudapan ini juga disisipkan dalam booklet album Dunia Milik Kita.

Tuntas memainkan 2 lagu, Kroncongan Agawe Santosa mengundang kembali Dialita untuk tampil dan menyanyikan lagu berirama keroncong nan syahdu “Taman Bunga Plantungan.” Lagu ini diciptakan ibu Zubaidah Nungtjik AR. pada 1971 di kamp Plantungan. Kala itu, ibu Nurcahya, ibu Mia Bustam, ibu Rusiyati dan kawan-kawan bertugas membuat taman di kamp Plantungan yang semula merupakan rumah sakit untuk penderita Lepra. Ibu-ibu itu merubah alang-alang menjadi taman cantik dengan memanfaatkan bunga, batu-batu dan rumput dari area di sekitar kamp. Hasil kerja keras ibu-ibu itu yang mendorong ibu Nungtjik menciptakan lagu indah ini.

Pada sesi ketiga, ibu-ibu Dialita diiringi Sisir Tanah (Bagus Dwi Danto) menyanyinyakan lagu-lagu yang bernada lebih riang dibanding sesi sebelumnya. Lagu-lagu yang diciptakan sebelum ’65 lantas tak pernah terdengar lagi pasca ’65, yakni lagu “Padi untuk India” dan “Viva Ganefo.”

Pada tahun 1946, India yang masih dibawah jajahan Inggris mengalami krisis pangan sehingga rakyatnya menderita kelaparan. Sebagai bentuk solidaritas, Indonesia yang baru setahun merdeka mengirim 700 ton beras ke India. A. Alie kemudian merekam peristiwa itu dalam lagu “Padi untuk India.” Sedang “Viva GANEFO”, diciptakan Asmono Martodipoero untuk perayaan GANEFO (Games of New Emerging Forces), ajang olahraga yang diikuti oleh negara-negara Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa dan Amerika selatan. Perhelatan ini dimotori oleh Soekarno sebagai “balasan” atas skors terhadap Indonesia oleh Komite Olimpiade Internasional kala itu.

Dialita menutup konser malam itu dengan memainkan lagu “Persahabatan.” Di akhir pertunjukan tangan kanan ibu-ibu Dialita terkepal di udara. Mereka baru saja menuntaskan pertunjukan diiringi tepuk tangan panjang penonton. Mewakili Dialita, ibu Uchi mengaku bahagia melihat sebagian besar penonton yang datang adalah anak-anak muda –selain kerabat-kerabat dekat Dialita.

Walau kebanyakan sudah berusia lebih dari 50 tahun (ibu Utati Koesalah bahkan berusia 72 tahun), namun semangat ibu-ibu Dialita rasanya masih membara. 3 kali tangan-tangan itu terkepal di udara –saat meneriakkan Merdeka dengan lantang di lagu “Asia Afrika Bersatu” dan di akhir lagu “Viva GANEFO”.

Taman Beringin Soekarno, 1 oktober 2016. 51 tahun setelah tragedi ’65, lagu-lagu yang dibungkam: lagu-lagu yang diciptakan diam-diam dan dituliskan di potongan kertas, di tanah, di tembok penjara bukit duri, di salemba, di kamp pembuangan para tahanan politik; lagu-lagu bisu itu kini telah dinyanyikan kembali dengan lirih dan merdu.

03 September 2014

Pulang

---- untuk AL

Begitu pulang, hal pertama yang saya lakukan adalah menghitung kembali jumlah kawan masa kecil yang tersisa. Ipi baru saja menikah. Menyusul Lika yang sudah menikah beberapa tahun lalu dan Akil dua tahun silam. Lika dan Akil masing-masing sudah punya anak 1, Ical bahkan sudah 2 dan kini menetap di Bacan. Ipi juga di Bacan. Yang belum menikah hanya Kamu, Mahdi dan Budi. Ya, tapi Kamu sudah lama menetap di Jailolo dan sesekali Pulang ke Ternate, sedang Mahdi baru saja bekerja di Weda.

Begitu di Jogja, saat bekerja maupun luang saya selalu merasa bahwa saya adalah orang yang sama dengan 10 tahun lalu. Tapi begitu pulang, saya sadar bahwa banyak hal yang saya temui tak lagi sama. Semakin banyak kawan masa kecil menikah berarti semakin sedikit teman yang bisa diajak bercerita sepanjang malam saat Ramadhan. Juga tak ada lagi pintu yang bisa saya tuju saat saya masih begadang. Tak hanya kawan, BTN pun sudah berubah.

Mudik adalah jembatan menuju masa lalu. Saatnya berbagi cerita. Ramadhan adalah momen dimana Mama akan memasak makanan yang –entah kenapa- hanya ada di tiap bulan istimewa itu dan hanya pada saat sahur dengan rasa yang selalu sama. Juga momen dimana Mama akan bercerita dengan berseri-seri tentang masa kecil beliau yang seru di Auna dan kala beliau menjadi gadis penjual ketupat favorit Mama-Mama Kailolo di Pasar Gotong Royong Ambon (kini Ambon Plaza). Juga saat Papa akan membawa kami keliling kota sore-sore –tradisi sejak kami di Masohi. Setelah Papa tiada, kebiasaan tersebut juga ikut hilang. Hal lain yang biasanya dilakukan Papa tiap Ramadhan adalah menyalakan pelita dari bambu/botol kaca saat malam Ela-ela (malam ke-27 Ramadhan). Kali ini Mama yang menggantikan peran Papa. Tetangga-tetangga kami di BTN pun masih melakukan hal yang sama. Indah sekali. Ini hal yang belum hilang di BTN.

Ingatan saya juga melayang ke malam-malam kita di teras rumahmu, di leger pojokan jalan depan rumah dan ruang tengah rumah kami. Kita masih terjaga saat kompleks ini sudah sunyi dan bercerita hingga Gendang Sahur terdengar di rumah sebelah. Saya lebih banyak mendengar, sedang kamu bercerita apa saja. Mulai dari kegiatanmu di Jailolo, sepak bola, hingga tentang pilihanmu untuk memperdalam agama. Dan tiap kali Ibumu memanggil pulang, kamu punya alasan ampuh supaya kita masih bisa berlama-lama: “Ada deng Ecal.” Ibumu tahu saya jarang pulang, dan membolehkan obrolan malam itu tetap berlanjut.

Dan kamu pun tahu kapan pertemuan malam itu harus berakhir: saat saya pamitan dengan alasan hendak makan, “Rabu-rabu saja.” Kamu sudah hafal betul bahwa saya tak akan kembali.

Momen pulang kampung kali ini kita bertemu di malam terakhir Ramadhan. Malam itu saya bertanya jam dan kamu menjawab, “Baru jam 12.” Padahal sudah jam 2. Kamu sengaja supaya kita bisa berbagi cerita lebih lama lagi. Karena ternyata, malam itu satu-satunya malam kita bertemu tahun ini.

Pulang tak hanya sebuah momen bagi kita untuk berkumpul dengan keluarga, nostalgia mengais masa lalu dan menyadari bahwa banyak hal tak lagi sama. Tapi juga momen yang mengharuskan kita agar menyiapkan satu ruang untuk kehilangan. 


Kapal Sinabung, Pelabuhan Ambon, 18 Agustus 2014.

21 Juni 2014

Bolakme

“MINCEEE... ” teriak Dokter Made memanggil pasien selanjutnya.

Mince, pelajar SMP yang malu-malu itu lantas berdiri dari tempat duduk di ruang tunggu Puskesmas Bolakme dan masuk ke ruangan Dokter Made.

“Ko sakit apa?”

“Tangan gatal-gatal,” terang Mince yang datang bertiga dengan temannya yang masih mengenakan seragam SMP.

“Ko tidak sekolah ka?”

“Guru ada di kota.”

Mince adalah siswi SMPN Bolakme –satu-satunya SMP di Distrik Bolakme, yang terletak di tepi kali Baliem yang mengalir deras dan berada tepat di kaki gunung Jugum di kompleks yang sama dengan SMUN Bolakme dan SD Inpres Bolakme.Di sebelah timur terdapat Puskesmas Bolakme, dan di sebelah barat terdapat PLTS Bolakme, Koramil, Polsek yang jarang buka, dan Pasar Bolakme yang buka tiap selasa, kamis dan sabtu.

Sekolahan Mince sudah melangsungkan ujian kenaikan kelas. Minggu ini mereka hanya datang ke sekolah untuk membersihkan rumput di kompleks sekolah yang mulai meninggi, lalu bermain sepak bola dilapangan sekolah yang luas. Dan pulang. Tak semua guru datang. Beberapa guru sedang ada di Wamena, bergabung dengan kelompok guru lainnya dari seluruh Kabupaten Jayawijaya yang berdemo menuntut pemotongan insentif mereka oleh Pemerintah Kabupaten.

Selain Mince dan temannya, ada juga 3 siswa SMPN Bolakme yang datang berobat di Puskesmas. Keluhannya sama: gatal-gatal pada kulit.

“Ko tinggal dimana?” tanya Bidan Desi, yang sehari-hari bertindak sebagai asisten Dokter Made sekaligus melayani loket pendaftaran.

“Di Bem.”

“Dimana itu?”

“Di balik gunung,” jawab pelajar SMP ke-4 yang pagi itu berobat ke Puskesmas Bolakme.

“Baru ko Pesmin?” tanya Bidan Desi ke teman pasien.

“Sa tidak sakit.”

4 pipa air tanpa keran mengalirkan air tanpa henti di belakang Puskesmas. Aliran air itu bersumber dari mata air yang terletak tak jauh dari Puskesmas. Selain Puskesmas Bolakme, Kantor Distrik, kompleks sekolahan, kantor Polsek dan Koramil, serta Kampung Bolakme dan Wenamela juga dialiri air tersebut. Air melimpah di sini.

Tapi tidak untuk listrik dan sinyal ponsel. Sinyal menjadi barang mewah di Bolakme. Untuk bisa –setidaknya- menerima SMS atau telpon, kita harus mendatangai spot-spot tertentu di jalanan desa yang sedikit mendaki. Menara BTS telkomsel terdekat berada di Distrik Hom-Hom, Kota Wamena, 45 km dari Bolakme.

Listrik dari PLN belum menjangkau semua distrik di Lembah Baliem. Di Distrik Bolakme, listrik bersumber dari PLTS dan solar cell yang terdapat di rumah-rumah warga. PLTS Bolakme yang memiliki panel matahari seluas separuh lapangan futsal hanya mengalirkan listrik ke kantor Distrik, Koramil, Polsek, dan sebagian rumah di kampung Bolakme.

Dulunya Puskesmas Bolakme dan kompleks sekolah teraliri listrik dari PLTS, namun pemuda-pemuda kampung yang nakal memutuskan kabel listrik yang melintang di kompleks sekolahan.

Menurut informasi beberapa pihak, Bolakme termasuk wilayah Ring 3. Zona merah. Zona dimana POS PAMRAHWAN ditempatkan.

Dua siswi lain yang mencuci tangan di pipa air merapat dekat ke pintu belakang, mencuri-curi pandang ke dalam Puskesmas dan malu-malu melihat lelaki asing yang duduk di ujung bangku panjang danmenebarkan senyum ke siapa saja.

Syahdan, kedua siswi yang bernama Mance Tabuni dan Debi Wenda itu berlari kecil dan duduk di bangku panjang di ruang tunggu pasien.

“Kam dua sakit?” tanya Dokter Made.

“Iya.” Kata Debi Wenda.

“Tunggu e.”

Sudah 30 menit, Dokter Made dan Michael bergantian melayani 10 pasien: 7 pelajar SMP, 1 ibu muda dan 2 lelaki tua yang mengeluh gatal-gatal.

Perempuan tua yang mengantar anaknya, mondar-mandir menunggu anaknya diperiksa. Mengenakan kaos biru, rok merah, topi kupluk merah-kuning-hijau, menyilangkan di bahu noken lusuh yang sobek di bagian bawah dan tak menggunakan alas kaki. Anaknya –yang diperiksa sambil menggendong bayi- dilayani lebih lama dibanding pasien lainnya, bahkan hingga pintu depan Puskesmas sudah ditutup.

“Baru suaminya ada dimana?” tanya Dokter Michael, “Besok suruh ke sini ya, mau saya kasi obat.”

Puskesmas Bolakme terletak di antara SMPN Bolakme dan Kantor Desa Lani Timur. Di kompleks Puskesmas terdapat gedung puskesmas rawat jalan, gedung rawat inap yang tak difungsikan, serta perumahan untuk dokter –yang sesekali ditinggali, bidan, perawat dan kepala Puskesmas. Dikelilingi pagar kayu besi yang di bagian atasnya ditumpuk rerumputan kering dan ranting pohon kasuari yang ditumbuhi bunga terompet ungu. Pintu masuknya berbentuk gapura melengkung yang juga diatapi alang-alang. Banyak kompleks rumah honai, kantor, gereja  dan sekolah di distrik-distrik di Kabupaten Jayawijaya berpagar dan bergapura alang-alang seperti itu. Alang-alang yang juga dipakai untuk atap honai.

Halaman Puskesmas yang tidak terawat dipenuhi rerumputan. Juga pohon-pohon kasuari yang meneduhkan. Di samping Puskesmas, ambulans yang baru berumur 3 tahun teronggok tak terpakai.

Suara aliran air dan gemuruh angin yang bertiup di sela dedaunan pohon kasuari menghadirkan paduan suara alam yang khas.

“Su siang bapa,” kata Dokter Made ke Enos Tabuni yang baru datang. Pintu depan Puskesmas sudah 20 menit lalu ditutup Dokter Michael yang setelahnya hanya melayani 1 pasien yang harus didampingi Perawat John sebagai penerjemah. Siang ini Dokter Michael juga berencana ke Kantor Dinas Kesehatan.

Tapi Dokter Made tetap melayani Enos Tabuni. Setelah diberi obat dan petunjuk meminum obat oleh Dokter Made, Enos Tabuni lalu berjalan ke luar dan hendak meminum obat dengan air dari pipa di belakang Puskesmas.

“Bapaaaaa.. makan epere dulu baru minum obaaat!!!” Teriak Dokter Made sambil berlari ke ujung pintu, dan tergelak.

Telat. Obat telah tertelan.

Saat hendak beranjak pulang, kedua dokter muda itu, Bidan Desmi dan Perawat John didatangi 2 pasien bermarga Tabuni yang berjalan tanpa alas kaki dari Desa Munak yang berjarak 5 km dari Puskesmas.

“Bapa sakit apa?”

“Gatal-gatal.”

“Kasih obat saja.” Kata Dokter Michael.

“Bapa mandi ka tidak?” tanya Dokter Made sambil mengemut lolipop.

Kedua pasien terakhir itu datang pada pukul 12.20, hampir 1 jam setelah pintu depan Puskesmas ditutup. Saat Dokter Made sudah mengenakan sweater dan menggendong tas punggungnya, siap-siap untuk pulang.

Pada spanduk yang dipasang di ruang tunggu, tertera jam buka-tutup Puskesmas: 09.00 – 13.00 WIT.


Bolakme, 28 Mei 2014.

13 Juni 2014

Wamena


Kali pertama saya menyaksikan magisnya Danau Sentani dari udara adalah pada 17 mei 2012. Hari ini, 2 tahun lewat 2 hari, untuk kali kedua saya ke Papua. Perjalanan kali ini menjadi lebih menarik karena tujuan kami Kabupaten Jayawijaya dan perjalanan Jogja-Jayapura menggunakan Garuda Indonesia! :D 

Biasanya untuk perjalanan antar pulau kami menumpang maskapai LCC, maka melihat kode GA di tiket adalah hal yang menyenangkan. Awalnya, kami dijadwalkan berangkat pukul 20.30, namun GA 254 yang kami tumpangi baru bisa membawa kami ke Denpasar pukul 23.00. Telat 2,5 jam!

Tapi keterlambatan 2,5 jam itu terlupakan seketika saat kami mengudara. “Garuda Indonesia Experience” langsung terasa ketika kita duduk di bangku penumpang dan lagu Bengawan Solo sentuhan Addie MS terdengar sayup mengalun. Pelayanan Garuda memang kelas 1. Kelas ekonominya memang juara. Wajar sekali Emirsyah Satar bercerita dengan bangga tentang pelayanan kelas ekonomi Garuda yang dilabeli terbaik sedunia oleh Skytrax itu. Pramugarinya pun ramah-ramah, tak hanya sekedar basa-basi. Rasanya pramugari maskapai lokal lain perlu di-training di Garuda biar tidak jutek dan seadanya dalam melayani –LCC sekalipun. 

Pesawat kami tiba di Bandar Udara Sentani pukul 9 pagi, setelah sebelumnya transit dulu di Timika. Danau Sentani masih menyuguhkan kemagisan yang sama, yang membuat pasang-pasang mata kami menjelajah lekukan bukit-bukit hijau dan danau itu sebelum mendarat.

Perjalanan Jayapura (DJJ) – Wamena (WMX) baru dilakukan pukul 3 sore menggunakan pesawat ATR Trigana Air. Pindah dari kabin Garuda yang nyaman ke Trigana rasanya seperti pindah dari Surga ke Ghana. Dari pelayanan kelas 1 ke pelayanan yang.. ya begitulah. Dari pesawat dengan tempat duduk yang kulit joknya pun bersertifikasi internasional ke tempat duduk berstandar pelosok yang bisa kita pilih semaunya di dalam pesawat, seperti penerbangan maskapai apapun dari Ternate ke Sanana. 

Tapi maskapai macam Trigana Air berjasa menghubungkan Jayapura dengan kota-kota kecil di Papua yang sulit ditempuh lewat jalan darat. Dalam sehari ada 6 penerbangan PP Jayapura – Wamena, dan 10 penerbangan untuk pesawat khusus kargo.

Trigana Air yang kami tumpangi mendarat mulus begitu tiba di Wamena –setelah sebelumnya terbang rendah diantara pegunungan di Lembah Baliem. Saat tiba, kami disambut 2 pelangi cantik yang di muncul di balik bukit kecil di utara dan timur bandara. Pemandangan yang mengingatkan saya akan foto pelangi kembar milik Pak Dayat, dan lanskap yang membuat saya merasa ada di set film Denias. 

Sebagai salah satu pintu masuk Jayawijaya, Bandar Udara Wamena rasanya cukup mewakili ketertinggalan Jayawijaya. Bandara bertipe sangat sederhana sekali. Bahkan terlihat seperti bandara darurat. Ruang keberangkatan/check-in yang menjadi satu dengan ruang kedatangan adalah bangunan beratap dan berdinding seng yang dicat coklat keki dan berlantai semen kasar. Ruang keberangkatan memang dilengkapi detector dan ruang tunggu dengan kursi panjang yang tersusun rapi. Tapi di ruang kedatangan, tak ada conveyor untuk mempermudah proses pengambilan bagasi. Pengambilan bagasi dilayani secara manual: langsung diambil ke petugas yang mengangkutnya dengan kereta/gerobak besi.

Ruang keberangkatan/kedatangan berada 1 halaman dengan Kantor Polsek KPPP Udara Wamena, tapi penjagaan bandara tak ketat. Setiap orang bebas masuk bandara. Saat pesawat mendarat kita bisa mendapati sekumpulan orang sedang menunggu di pinggir landasan untuk selanjutnya melintasi landasan pacu. 

Berada di ketinggian 1800 meter di atas permukaan laut, Wamena terletak di Lembah Baliem yang berhawa sejuk dan bersahabat. Dikepung pegunungan dan bukit-bukit yang berjejer merapat menyembah langit.

Di setiap tempat yang saya kunjungi, hal utama yang selalu saya harapkan adalah senyum dari orang yang saya temui. Senyum pertama yang saya dapatkan kali ini adalah senyum mama penjual bunga pandi, buah markisa, pinang dan kelapa hutan yang berjualan sambil menyulam noken di depan kantor Polsek UKPP Bandara Wamena. 

Walau perjumpaan pertama, Wamena terasa bagai peluk hangat kawan lama.


(19 Mei 2014)
Baliem, lembah pelangi.