29 November 2012

Apa Kabar?

Saya lama tak pulang. :)

Saya lebih sering di facebook dan twitter. Padahal "rumah" ke-2 di dunia maya yang saya bangun setelah friendster adalah blog. Selama ini saya lebih senang menikmati nostalgia dengan teman-teman SD dan SMP yang saya temui di fb dan meracau tentang apa saja di twitter.

Tapi account fb saya sudah ditutup. Twitter? harusnya juga sudah ditutup. Tapi saya buka lagi hanya untuk bertanya hal tidak penting yang tidak dibalas oleh diplo. :D Oiya, tapi salah satu tweet saya pernah di-RT diplo! :)) 2 tahun terakhir saya menggemari musik elektronik dan diplo-lah yang mengambil-alih playlist.

Tiap kali buka blog dan ada komen baru, entah kenapa saya deg-degan. Pagi ini ada komen dari anaknya Imanez. Saya rasa dia melakukan kunjungan balik setelah sebelumnya saya meninggalkan jejak di blognya. Pagi ini pula saya baru sadar bahwa hanya ada 1 postingan selama 2012, itu pun hanya video. Oh, betapa tidak produktifnya! (ini alasan utama kenapa saya tidak memakai "blogger" dalam biografi akun sosial media). :D

----

Hampir 10 bulan berlalu setelah postingan terakhir, sebenarnya banyak sekali yang ingin diceritakan. Hmm.. bukan banyak, tapi ada yang ingin saya bagi. Ya tahun ini lebih seru dari tahun lalu saat saya (akhirnya) menyelesaikan skripsi. Beberapa hal memang masih sama, namun ada perubahan-perubahan kecil yang saya syukuri. Salah satunya, mendapatkan pekerjaan yang menyenangkan: saya dibayar untuk "jalan-jalan" ke Sumba & Papua!

Ya, Papua, tanah yang selalu saya impikan itu. Akhirnya terwujud bisa sampai kesana. Tidak lama memang, sekitar 39 hari. Tapi sangat berkesan. 

Di Papua saya berkesempatan ke Jayapura dan Merauke untuk mewancarai banyak orang dengan berbagai latar belakang. Mulai dari pendeta yang sangat mengidolakan Gus Dur, Dorus Manegasi di A.P.O. Bengkel, sebuah perkampungan padat dengan rumah-rumah yang 'menempel' di sisi bukit --yang sepintas mirip favela di Rio de Janeiro. Lantas hidup tanpa listrik dan sinyal dengan petani dan nelayan asli Papua, serta makan ikan bakar dan buah matoa selama seminggu penuh di Kantumilena, yang membuka mata saya bahwa orang asli Papua itu sangat ramah. 

Sementara di Merauke, kami tinggal di SP 9, sebuah satuan pemukiman yang dihuni transmigran asal Jawa di kampung Yaba Maru, distrik Tanah Miring. Cukup mengejutkan mendengar cerita petani-petani Jawa yang sudah belasan bahkan puluhan tahun tidak pulang karena sudah kerasan di Merauke. Mereka diistilahkan dengan Jamer, Jawa-Merauke. Ada pula Cina-Merauke, orang-orang keturunan Tionghoa yang anehnya tidak bisa berbahasa mandarin, namun menguasai bahasa Malind (suku asli Merauke). Seorang Cina yang saya temui di Rimba Jaya adalah pengusaha abon dan dendeng rusa, oleh-oleh khas Merauke. Disini kami mabok daging rusa! Segala macam makanan mulai dari rendang, bakso, nasi kuning, hingga nasi pecel disajikan dengan daging rusa. :D

Di Merauke juga saya sempat berbincang dengan ketua lembaga masyarakat adat Malind Anim, yang bercerita singkat alasan orang Papua ingin merdeka, juga berbagi persoalan-persoalan mendasar yang dialami mereka. Saya berkesempatan pula mewawancarai Frits Maurits, portir bandara Mopah. Ini bagian yang paling saya suka dari pekerjaan ini: saya mewawancarainya di ruang tunggu bandara! :D

39 hari yang begitu singkat namun membuat jatuh hati semakin dalam dengan Papua.

Saya sempat berfikir untuk bekerja dan menetap disana setelah diberi kartu nama dan ditawari pekerjaan oleh seorang kepala cabang BNI yang saya temui di Jayapura. Hal yang terakhir ini sepertinya akan menemui kendala, bulan ini saja mungkin sudah 18 kali ibu saya menelpon dan SMS meminta saya pulang. :D


ditulis sambil mendengarkan Float