05 Mei 2010

Berburu Kepala di Jogjakarta

Tika and The Dissidents sukses menghadirkan ratusan kepala dan tampil memukau menyambut Mayday!
 
30 April 2010, pukul 7 malam, JNM sudah ramai. Seperti biasa, memang ada pembukaan pameran. Namun perayaan lain terjadi di tengah-tengah kompleks museum yang dulunya kampus seni itu. Aula JNM yang di hari-hari biasa tampak lengang, malam itu disulap menjadi arena pertunjukan dengan set panggung sederhana, backdrop hitam besar dengan susunan layangan dibagian tengah, tata lampu minimalis, tribun mini di bagian belakang, dan karpet hitam untuk penonton yang memilih duduk bersila di bagian depan. Tika and The Dissidents memilih Jogja sebagai kota pertama untuk promo album terbarunya The Headless Songstress.

Pertunjukan malam itu dibuka oleh Frau, solois yang baru saja merilis mini album pertamanya “Starlit Carousel” secara gratis lewat netlabel yesnowave.com (format CD dirilis Cakrawala Records). Membuka pertunjukan dengan satu lagu milik Iggy Pop and The Stooges, dilanjutkan dengan “Intensity Intimately” dan “Mesin Penenun Hujan” yang menenangkan. Tak hanya ditemani Oscar, pianonya. Pada “Salahku Sahabatku” Frau menghadirkan Nadya Hatta (Armada Racun, Risky Summerbee and The Honeythief, Demi Tuhan, dan ex-Southern Beach Terror). Wok the Rock yang turut bernyanyi pada “Rat And Cat” mengundang tepuk tangan semua penonton hingga Frau tak sengaja berkomentar, “Wok the Rock.. The star of tonight”. Setelah “I’m a Sir” Frau menutup penampilannya dengan mengajak Ugoran Prasad dari Melancholic Bitch untuk menjadi “Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa”. Ugoran Prasad yang kharismatik di panggung tampil mempesona meskipun hanya satu lagu dan melengkapi penampilan Frau yang melenakan.

Tampil dengan formasi lengkap dan mengenakan pakaian serba hitam, Tika and The Dissidents juga menghadirkan Iman Putra Fattah –gitaris Lain dan Zeke and The Popo, juga produser The Headless Songstress bersama Nikita Dompas, serta Mian Tiara dan Mutiara Rievana pada departemen backing vocal. Menyapa penonton dengan lagu-lagu yang diambil dari The Headless Songstress “Pol Pot”, “20 Hours”, dan “Infidel Castratie”, serta “Fever Fairytale” dari album Defrosted Love Songs. Mungkin karena nuansa lagu-lagu awal yang begitu dingin, penonton pun ikut dingin, hingga Tika sedikit 'mengeluh' dan mencoba mencairkan suasana “Aku jadi gugup nih, jangan terlalu serius dong..” candanya. Pada “20 Hours”, Tika sempat membagikan tamborin dan mengajak penonton untuk ikut bermain bersama. Suasana mulai intim dan menghangat, Tika yang komunikatif beberapa kali melempar candaan ke penonton, “Di Jogja lagu saya dirubah jadi tentang peteng, jadi tolong mas lampunya dibikin peteng”, candanya sebelum membawakan “Tentang Petang”. Tika juga berulang kali mengucapkan terima kasih untuk penonton dan tentunya Kongsi Jahat Syndicate yang untuk kedua kalinya sukses menggelar konsernya di Jogja. Gufy dari Kongsi Jahat Syndicate juga mendapat candaan spesial dari Tika yang menyebut Gufy sebagai inspirasi dari lagunya “Clausmophobia” yang menyinggung pandangan stereotipikal masyarakat terhadap homoseksualitas.

Ini hanyalah lagu tentang sayur” kata Tika sebelum membawakan “Genjer-genjer”, lagu rakyat ciptaan seniman asal banyuwangi, Muhammad Arief, yang pada era orde baru haram diedarkan bahkan dinyanyikan. Pada bagian awal, nuansa yang dibangun Tika and The Dissidents pada lagu ini begitu suram, ditambah dengan tika yang bernyanyi menggunakan megaphone. Entah apa kekuatan lagu ini. Yang pasti, mungkin hanya Tika and The Dissidents satu-satunya band di dunia ini yang mampu membuat penonton merinding dengan sebuah lagu tentang sayur. Setelahnya, lagu patah hati yang manis “Waltz Muram” dibawakan.

“Jogja Istimewa” bagi Tika, untuk itu Tika juga menghadirkan bintang tamu istimewa –yang beberapa hari sebelumnya diumumkan lewat akun twitter-nya. Meskipun sudah tertebak Tika sempat memberi clue kepada penonton, menyebut nama Anang, bahkan menyanyikan reffrain “Separuh Jiwaku Pergi” single milik Anang yang kemudian disambut tawa heboh penonton. Hendra “Anda” Perdana, sang bintang tamu istimewa pun tampil dan berbagi suara mautnya pada “Ol’ Dirty Bastard”. Anda, Tika, dan Mian Tiara juga membawakan “Cukup Dalam Hati”. Tika and The Dissidents boleh beristirahat sejenak saat Anda mengambil alih panggung dan menunjukan kelasnya sebagai salah satu penyanyi terbaik yang dimiliki negeri ini. Anda kemudian membuai penonton dengan “Biru” dari In Medio, album solo pertamanya.

Tak hanya Tika and The Dissidents yang menyajikan pertunjukan terbaik dengan kemampuan bernyanyi dan musikalitas yang baik pula, Mian dan Muthiara yang berada di belakang pada beberapa bagian juga menampilkan olah vokal sempurna yang membuat mereka juga layak mendapatkan penghargaan malam itu.

Berturut-turut “Venus envy”, “Under Their Feet”, dan “Mayday” dibawakan sebagai penutup konser ini.

Ini pertama kalinya kami merayakan Mayday dengan kalian semua”, Tika kemudian mendaulat orang-orang yang selama ini berada dibelakangnya, road manager dan kru, juga Gufy dan Oji dari Kongsi Jahat Syndicate, dan beberapa penampil sebelumnya untuk tampil membentuk ”paduan suara buruh” dan menutup konser ini dengan sebuah perayaan Mayday yang memukau.

Tidak ada komentar: