16 Januari 2014

Tebing


Tak ada ketek ke Serdang siang ini (8/1). Saya terlambat, ketek menuju serdang telah bertolak dari bom (dermaga) Pampangan beberapa saat lalu. Hanya ada 1 ketek lagi, tapi hanya sampai ke Tebing: ketek yang berfungsi sebagai taxi bagi anak-anak sekolah dari Tebing. Tebing juga termasuk desa Serdang, hanya masih 30 menit perjalanan lagi untuk mencapai dusun 1 Serdang. Sembari menunggu ketek yang mungkin ada, saya memotret anak-anak SD asal Tebing tadi di dermaga. Siang itu ada pemilik ketek yang menawarkan penyewaan keteknya seharga 60 ribu. Saya menolak.

Seorang pengemudi ojek yang biasa mangkal di depan warung minang “Family” juga menawarkan diri untuk mengantarkan saya ke Serdang dengan bayaran 40 ribu. Bagi saya kemahalan untuk perjalanan 11 km. “Tapi jalannya jahat nian,” kata ojek itu.

Saya agak berhati-hati. Sebelumnya kami pernah dikerjai: membayar 150 ribu untuk menyewa ketek yang biasanya bisa dibayar 30 ribu rupiah saja. Setelah gagal menawar dan menimbang-nimbang harga dengan kondisi jalan yang sehari sebelumnya tidak diguyur hujan. Akhirnya saya sepakat. OK, lajulah! 40 ribu!

Ojek lantas melaju menuju kearah kecamatan Pangkalampam, lantas masuk melalui jalan setapak kecil yang hanya cukup untuk 1 motor. Melewati jalanan jahat di antara rawa, lewat kebun balam yang berhektar-hektar
luasnya dengan 40 ribu pohon karet berjejer rapih (kata pengemudi ojek, pemilik kebun balam tersebut seorang toke muda kaya raya asal Pangkalampam), lalu ojek kami melewati hutan kecil, lewat kebun karet lagi dan jalanan jahat lagi.

Rasanya ini jalan terjahat yang pernah saya temui selama 40 hari terakhir di selatan Sumatera.

Memang ngeri-ngeri sedap jalan tanah ini. Mungkin jalan ini tak berarti jika dilibas dengan Ford Ranger, tapi kali ini saya menumpang motor bebek dengan ban yang idealnya hanya beroperasi di jalanan aspal.

Saya agak pasrah. Apapun yang terjadi, lajulah. Kemungkinan terburuk kami tergelincir, lalu jatuh. Dan celana saya kotor. Itu saja.

Sekali motor kami melintas di atas jeramba kayu kecil yang disusun dari batang-batang kayu sebesar lengan saya yang kurus ini -yang nampaknya bisa ambruk kapan saja. Sesekali ban belakang motor kami terselip, Dan saya menahan napas berkali-kali saat ojek itu melaju.

Hingga kemudian selepas kebun karet, sebelum membelah luapan rawa yang menggenangi jalan, sang pengemudi ojek berseru, “Nah, itu serdang!”

Fiuuuhhh…

***

Serdang adalah salah satu desa terjauh yang termasuk dalam wilayah kecamatan Pampangan. Berbatasan sebelah utara dengan Sri Mulya, sebelah selatan dengan Kandis, sebelah barat dengan Pampangan-Ulak Depati dan sebelah timur dengan Deling-Jungkal. Serupa Pulau Layang, Serdang juga dikepung lebak (rawa) luas. Ada 11 titik rawa di wilayah Serdang: Lebak Teluk Padi, Lebak Serdang, Lebak Pare Ulu, Lebak Pare Ilir, Lebak Ujung, Lebak Sengulung Ulu, Lebak Sengulung Ilir, Lebak Batas, Lebak Keret, Lebak Buntuan, dan Lebak Lidah Tanah.

Namun berbeda dengan Pulau Layang, tak banyak kerbau rawa di Serdang. "Dulu ada banyak kerbau di sini, ada ratusan, tapi sudah dijual pemiliknya." kata pak Sumardi, Kades Serdang. Lebih mudah menemui sapi-sapi dibanding kerbau rawa di Serdang.

Saya menunaikan shalat magrib di masid Nurul Iman Serdang, dan memasuki masjid pada saat iqomah. Hanya terisi 1 shaf dengan beberapa orang jamaah. Ternyata ada 1 kolom shaf yang dikosongkan dan saya diminta mengisinya. Karena datang terlambat saya memilih paling pinggir dan mempersilakan para orang tua yang telah datang lebih dulu untuk mengisi bagian kosong itu.

Sepulang dari masjid saya ditegur ibunda pak Sumardi di rumah karena tak mengenakan kopiah saat sholat magrib tadi. Saya jadi ingat Nene Boi di Mangoli, saya pernah ditegurnya sebab shalat dan datang ke pemakaman tanpa mengenakan kopiah.

Ternyata di Tebing saya mengalami hal nyaris serupa. Saat jumatan di masid Al-Muhajirin, pak Kholik memberikan sajadah dan kopiah ke saya lantas memberi tahu agar saya duduk di shaf paling depan dekat dengan imam. Sebegitu ramahkah penduduk di sini? Saya hanya tamu tak penting yang baru datang beberapa menit sebelum bedug jum'at ditabuh.

Jumat siang itu saya menumpang ketek rombongan guru SDN 1 Serdang untuk menuju Tebing. Para guru di SDN 1 Serdang semuanya berasal dari desa lain, jadi tiap harinya guru-guru itu melaju ke Serdang dengan ketek. Ketek dengan dudukan papan patah yang sudah bermuatan 8 orang itu bertambah muatan 1 orang lagi. Alhasil ketek melaju begitu pelan menyusuri lebak.

Pada beberapa titik di lebak antara Serdang dan Tebing bertebaran teratai-teratai putih. Pun di lebak di belakang rumah-rumah di Tebing. Saat tiba di rumah Pak Kholidi, kadus Tebing, saya langsung melongok ke belakang rumah.

"Aer galee.." sahut tetangga pak Kholidi.

Iya, dusun tebing ini memang penuh air dan dibangun di atas rawa. Ada pun sedikit bagian yang ditimbun tanah dan sudah disemen adalah jalan setapak yang membentang sepanjang 100 meter hingga jeramba beton. Sisanya rumah-rumah dihubungkan dengan titian kayu yang tiap kali air pasang atau hujan datang akan terendam.

Tebing secara geografis termasuk dalam wilayah desa Pampangan, namun secara administratif penduduknya tercatat sebagai penduduk Serdang. Kampung di atas rawa ini bermula dari tahun 1953, saat 17 warga Serdang berkongsi untuk membangun sebuah pabrik kayu di tepian sungai Komering. Pabrik kayu yang mereka bangun itu sukses, di tahun 60an masing-masing dari ke-17 orang itu membuka pabrik sendiri. Pabrik kayu di tepi sungai Komering bertambah, rumah-rumah bertambah, penduduk pun bertambah. Tebing kian ramai. Lebu (ampas kayu) dari pabrik kayu dikumpulkan di rawa, dan ditimbun hingga mencapai ketinggian rumah panggung. Dari jauh, timbunan lebu itu tampak seperti tebing tinggi.

Ke-17 "penemu" Tebing itu kini telah tiada, namun kisah mereka masih bisa disampaikan dengan baik oleh Pak H. Safei, tokoh masyarakat berusia 78 tahun yang mendiami Tebing sejak 60an. "Saya negak rumah ni tahun 73. Naik haji tahun 79. Tahun 80-an pabrik-pabrik kayu ini ditutup tentara." Karena dianggap ilegal, pabrik-pabrik kayu yang menghidupkan Tebing itu ditutup. Sebagian penduduk mengubah haluan menjadi petani, sebagian kembali ke Serdang untuk memahat karet.

Sisa-sisa lebu kini masih bisa ditemui di Tebing namun hanya tersisa 1 titik. Lebu dengan tinggi sekitar 1,5 meter dari permukaan rawa dan berdiameter sekitar 50 meter yang kini menjadi tempat bermain untuk budak-budak kecik.

Dari atas lebu itu kita bisa memandang jauh ke Pampangan, juga ke lebak-lebak terjauh. Untuk pertama kalinya, selama 40 hari di selatan Sumatera akhirnya saya menyaksikan senja yang begitu cantik. Begitu syahdu dari atas lebu itu. Rona jingga menyelimuti dari ujung barat lebak hingga ke kolong-kolong rumah panggung di tepian sungai Komering.

Di Tebing pula, untuk kali pertama selama 40 hari di selatan Sumatera akhirnya saya mandi di lebak!


Selain keramahannya, kehidupan masyarakatnya yang dekat dan bergantung pada sungai, hal lain yang membuat Tebing sama dengan desa-desa lain di Pampangan, SP Padang dan Tulung Selapan adalah betapa begitu familiarnya masyarakat dengan togel. Bahkan anak-anak kecik pun paham. Pemilik rumah yang saya tinggali di Tebing adalah agen penjual nomor togel. Dari pagi hingga pukul 11 malam, tamu-tamu datang silih berganti memasang nomor. Banyak bapak-bapak dan ibu-ibu, tapi tak jarang anak-anak kecik pun tiba-tiba muncul untuk menyampaikan pesan nomor dan uang yang dititipkan orang tuanya.

"Saya kerja begini hanya untuk uang rokok, pulsa dan uang bensin saja," kata agen itu, "Kalau untuk makan sehari-hari ya dari mahat itulah." jelasnya yang tiap kali ada nomor yang tembus dia bisa mendapat persenan dari "bos"-nya 15 % juga 10 % dari pemasang nomor.

Di sini, hampir setiap orang percaya terhadap kekuatan angka yang muncul dalam mimpi.

****

Jum'at (10/1) siang saat hendak menuju masjid untuk Jumatan, saya dipanggil oleh seorang anak yang tengah duduk-duduk di depan warung, "Mang!"

Ah, ternyata anak itu 1 diantara belasan anak SD yang saya foto di dermaga.


4 komentar:

kaili 22 mengatakan...

Ini blog yg paling luar biasa Dan terhebat yg pernah gua baca...
Terimakasih atas perhatiannya untuk desa2 terpencil seperti ini..

kaili 22 mengatakan...

Izin share

Membunuh Matahari mengatakan...

Terima kasih sudah singgah di blog saya 😊😊😊😊

Membunuh Matahari mengatakan...

Silakan.. dengan senang hati.. 😊😊😊😊